HomeSosial

Jejak Sukses AMMAN Menjaga Lingkungan, Sampah Pun Lahirkan Prestasi

Jejak Sukses AMMAN Menjaga Lingkungan, Sampah Pun Lahirkan Prestasi

AMMAN Buka Pendaftaran Beasiswa SMK Unggulan 2025 untuk Putra-Putri Sumbawa Barat dan Sumbawa
Ibu, Aku akan Pulang Membawa Harapan
AMMAN Ajak Media Perkuat Literasi HAKI dan KIK untuk Kemandirian Ekonomi Sumbawa

Program Pengelolaan Sampah Sekolah (PPSS) AMMAN mampu mengubah kebiasaan warga sekolah di Sumbawa Barat. Bukan hanya untuk menciptakan lingkungan yang bersih. Dari rumah kompos sederhana, program ini tumbuh menjadi gerakan lingkungan yang menghasilkan manfaat sosial, ekonomi, hingga meraih penghargaan nasional.

Oleh: Zulkarnain

Suara mesin pencacah terdengar dari sisi kebun SMPN 6 Taliwang, Kabupaten Sumbawa Barat. Suara itu berasal dari sebuah bangunan sederhana berukuran sekitar 3 x 8 meter. Bangunan yang sekilas tampak biasa itu menjadi saksi bagaimana cara pandang terhadap sampah perlahan berubah.
Bangunan itu bukan ruang kelas. Bukan pula gudang penyimpanan barang bekas. Tempat itu adalah rumah kompos. Di dalamnya, sampah yang sebelumnya hanya dianggap sebagai limbah kini diproses menjadi sesuatu yang bernilai.
Pagi itu, Rabu (29/7) beberapa siswa yang tergabung dalam kader PPSSP SMPN 6 Taliwang terlihat sibuk. Mereka membawa karung berisi sampah yang dikumpulkan dari berbagai sudut sekolah.
Sekitar tujuh karung sampah kemudian dipilah. Sampah organik dipisahkan untuk diolah menjadi kompos. Sampah anorganik dikumpulkan untuk dimanfaatkan kembali. Sedangkan sampah sisa dipisahkan untuk dibawa ke tempat pembuangan akhir. Tidak ada wajah jijik dari para siswa. Tidak ada rasa enggan menyentuh sampah. Bagi mereka, memilah sampah sudah menjadi bagian dari kebiasaan sehari-hari.
Hendrarto Susilo, salah satu kader PPSS SMPN 6 Taliwang, mengatakan kegiatan tersebut dimulai dari proses sederhana. Mengumpulkan dan memilah.
“Pertama kami bersama teman-teman mengumpulkan dan memilah sampah yang telah terkumpul di tempat pemilahan sampah. Selanjutnya memproduksi kompos dari sampah yang telah diolah,” katanya.


Ket. foto: Para siswa yang merupakan kader di SMPN 6 Taliwang mengangkut sampah yang telah dipilah dan akan dibawa ke rumah kompos

Di sudut lain rumah kompos, tumpukan kompos hasil produksi sekolah terlihat tersusun rapi. Aroma khas bahan organik memang masih terasa, tetapi tidak menyengat. Rumah kompos itu tetap bersih. Peralatan tersusun rapi. Tidak terlihat kesan kumuh seperti bayangan banyak orang ketika mendengar kata sampah.
Di luar rumah kompos, perubahan itu semakin terlihat. Halaman sekolah tampak bersih dan asri. Tanaman hijau tumbuh di berbagai sudut. Di depan setiap kelas tersedia tempat sampah sementara. Hampir tidak terlihat sampah berserakan. Namun, kondisi tersebut tidak terjadi dalam waktu singkat. Ada perjalanan panjang yang mengubah sampah dari sebuah persoalan menjadi kebiasaan.
Kepala SMPN 6 Taliwang, Taofiq Rahman, S.Pd.I., masih mengingat kondisi sekolah sebelum pengelolaan sampah berjalan seperti sekarang.
Saat itu, sampah organik, anorganik, dan sampah sisa masih bercampur. Belum ada sistem pemilahan yang jelas.
“Kondisi sebelum ada pengelolaan sampah, kita belum melakukan pemilahan. Sampah apa pun dijadikan satu, baik organik maupun anorganik, termasuk sampah sisa,” ujarnya.
Meski demikian, kepedulian terhadap lingkungan sebenarnya sudah mulai tumbuh. Sejak 2019, SMPN 6 Taliwang telah membawa identitas sebagai sekolah hijau. Lingkungan bersih menjadi salah satu perhatian utama sekolah. Rumah kompos kemudian mulai dibangun pada 2021. Namun, pada masa awal, pengelolaannya masih terbatas. Peralatan yang dimiliki belum memadai. Sekolah mencoba berbagai cara dengan kemampuan yang ada. Bahkan, pihak sekolah pernah memanfaatkan mesin bor yang biasa digunakan untuk pekerjaan bangunan. Bagian tertentu dimodifikasi agar bisa membantu proses pencacahan sampah.
Upaya sederhana itu menunjukkan satu hal. Kinginan untuk berubah sudah ada sejak awal. Kemudian, dukungan dari berbagai pihak mulai datang. SMPN 6 Taliwang bergabung dengan Komunitas Hijau Biru Kabupaten Sumbawa Barat yang memberikan pendampingan tentang pengelolaan lingkungan. Dari proses tersebut, sekolah kemudian mendapat dukungan melalui PPSS yang dikembangkan AMMAN.
Pada 2022, SMPN 6 Taliwang mendapat bantuan peralatan pengelolaan sampah. Mulai dari sekop, cangkul, arco, mesin pencacah sampah, hingga mesin jahit karung.
Namun bagi Taofiq, keberhasilan program bukan hanya karena adanya bantuan peralatan. Yang paling penting adalah perubahan perilaku.
“Sekolah hijau ini menjadi formula kami di awal. Kami tidak bisa melihat sesuatu yang berserakan, terutama sampah. Pagi-pagi anak-anak sudah saya ajak pungut sampah,” katanya.


Ket. foto: Aktivitas para kader di rumah kompos

Perlahan, kebiasaan baru mulai terbentuk. Mengelola sampah tidak lagi hanya menjadi tugas kader. Seluruh warga sekolah mulai memahami bahwa menjaga lingkungan merupakan tanggung jawab bersama.
Rumah kompos yang sebelumnya hanya sebuah bangunan sederhana, kini menjadi pusat pembelajaran. Tempat siswa belajar bahwa sesuatu yang dianggap tidak berguna masih dapat memiliki nilai.
Keberhasilan itu sebenarnya bukan cerita yang hanya tumbuh di SMPN 6 Taliwang. Tetapi telah menjalar ke banyak sekolah di Sumbawa barat.
Di SMPN 1 Maluk, jejak yang sama juga terlihat. Kepala sekolah SMPN 1 Maluk hj. Ika Muliati, S.Pd, Bio memaparkan bagaimana program pengelolaan sampah yang didukung AMMAN perlahan mengubah kebiasaan warga sekolah. Sampah mulai dipilah. Lingkungan sekolah lebih terawat. Yang terpenting, siswa mulai memahami bahwa menjaga lingkungan bukan pekerjaan sesaat, melainkan kebiasaan yang harus dibangun bersama.
Dua sekolah itu kini menjadi contoh bagaimana PPSS AMMAN dapat tumbuh menjadi gerakan di lingkungan pendidikan. Program tidak berhenti ketika pendampingan selesai. Pengetahuan yang diberikan terus dipraktikkan dan diwariskan kepada siswa berikutnya.
Jejak keberhasilan itu juga terlihat di sejumlah sekolah lain. Hingga kini, program pengelolaan sampah terus berjalan dan berkembang. Masing-masing sekolah mungkin memiliki cara dan tantangan yang berbeda. Namun tujuannya sama. Mengubah cara siswa memandang sampah.
Sebab, keberhasilan PPSS bukan semata tentang berapa banyak sampah yang berhasil dikurangi. Lebih jauh dari itu, program ini sedang menanamkan sebuah kebiasaan. Bahwa sampah yang selama ini dianggap masalah, ternyata bisa dikelola, dimanfaatkan, bahkan menjadi bagian dari pembelajaran.
Dari sekolah, kebiasaan itu diharapkan ikut pulang ke rumah. Lalu tumbuh di tengah masyarakat.
Di situlah jejak PPSS AMMAN menjadi lebih panjang. Bukan hanya meninggalkan sekolah yang lebih bersih. Tetapi juga generasi yang mulai terbiasa memperlakukan sampah dengan cara berbeda.

Dari Kebiasaan Menjadi Gerakan.

Perubahan di SMPN 6 Taliwang, SMPN 1 Maluk ataupun di beberapa sekolah lain yang menjadi sasaran PPSS AMMAN, tidak dibangun hanya dengan menyediakan tempat pengolahan sampah. Ada proses panjang untuk mengubah kebiasaan warga sekolah.
Bagi Bambang Supriadi dari CV Tamu Baru, mitra pendamping PPSS AMMAN, tantangan terbesar bukan sekadar mengolah sampah, tetapi menanamkan kesadaran. Sebab, sampah adalah persoalan perilaku.
Ketika program mulai dikembangkan, pendekatan yang dilakukan masih berfokus pada edukasi. Guru dan siswa diperkenalkan tentang pentingnya menjaga kebersihan serta cara mengelola sampah dengan benar.
“Awalnya lebih banyak edukasi. Ada upaya pengolahan sampah, tetapi belum seperti sekarang,” kata Bambang.
Seiring berjalan waktu, program berkembang. Tidak hanya mengajarkan cara membuang sampah, tetapi bagaimana sampah dipilah, diolah, dan dimanfaatkan kembali.
“Memberikan pengetahuan kepada siswa dan guru bagaimana cara mengelola sampah yang baik dan benar. Juga membangkitkan kepedulian siswa, guru, dan warga sekolah,” ujarnya.
Dalam pelaksanaannya, sampah dibagi menjadi tiga kelompok. Sampah organik diolah menjadi kompos. Sampah anorganik yang masih memiliki nilai ekonomi dikumpulkan untuk dimanfaatkan kembali. Sementara sampah sisa dipisahkan dan dibawa ke tempat pembuangan akhir.
Sistem sederhana itu perlahan membangun kebiasaan baru. Siswa yang sebelumnya hanya mengenal sampah sebagai sesuatu yang harus dibuang, mulai memahami bahwa sampah memiliki nilai apabila dikelola dengan baik.
Di SMPN 6 Taliwang, para kader PPSS menjadi penggerak utama. Mereka tidak hanya bekerja di rumah kompos, tetapi juga menjadi contoh bagi teman-temannya. Begitu juga di SMPN 1 Maluk dan sejumlah sekolah lainnya.
Di SMPN 1 Taliwang, Hendrarto merasakan perubahan itu. Menurutnya, keterlibatan dalam program tersebut memberikan pengalaman baru. Ia belajar bahwa menjaga lingkungan bukan hanya tugas petugas kebersihan, tetapi tanggung jawab seluruh warga sekolah.
“Kami bangga ikut menyukseskan program ini. Secara tidak langsung kami bisa membuat sekolah kami dikenal sebagai sekolah yang bersih dan hijau,” katanya.
Ketika Sampah Mulai Bernilai
Perubahan yang terjadi di SMPN 6 Taliwang, tidak berhenti pada lingkungan yang lebih bersih. Dari rumah kompos itu, muncul manfaat lain. Kompos hasil pengolahan sampah organik mulai dimanfaatkan untuk kebun sekolah. Berbagai tanaman tumbuh subur di sekitar rumah kompos. Cabai, terong, kacang panjang, dan sayuran lainnya menjadi bukti bahwa sampah bisa kembali memberi kehidupan. Penggunaan pupuk kimia pun mulai berkurang.
Selain dimanfaatkan sendiri, kompos produksi sekolah juga memiliki nilai ekonomi. Taofiq Rahman mengatakan, kompos yang dihasilkan sekolah dijual dengan harga sekitar Rp2.000 per kilogram. Dalam satu kali produksi, jumlah kompos yang dihasilkan mencapai 800 kilogram hingga 1 ton. Produksi tersebut dilakukan secara berkala setiap tiga bulan.
“Kompos yang dihasilkan tidak hanya digunakan di sekolah, tetapi juga dimanfaatkan masyarakat,” kata Taofiq.
Bahkan, kompos hasil produksi SMPN 6 Taliwang pernah dikirim hingga ke Kabupaten Bima. Bagi sekolah, capaian tersebut menjadi bukti bahwa pengelolaan sampah bukan hanya berbicara tentang kebersihan, tetapi juga peluang menciptakan manfaat ekonomi.
Perubahan di sekolah itu kemudian menarik perhatian berbagai pihak. Sejumlah sekolah datang untuk belajar langsung tentang pengelolaan sampah. Mereka melihat bagaimana rumah kompos sederhana mampu mengubah cara pandang warga sekolah terhadap sampah.
SMPN 6 Taliwang bahkan pernah menerima kunjungan warga Jepang yang tinggal di Jakarta untuk melihat praktik pengelolaan sampah yang dilakukan sekolah. Bagi Taofiq, kunjungan tersebut menjadi penyemangat bahwa langkah kecil yang dilakukan sekolah memiliki arti besar.

Dari Dua Sekolah Menjadi Gerakan yang Lebih Luas.

Keberhasilan SMPN 6 Taliwang dan SMPN 1 Maluk menjadi salah satu contoh bagaimana PPSS berkembang di Kabupaten Sumbawa Barat. Program yang awalnya dimulai dari dua sekolah ini sebagai percontohan, sekarang terus diperluas ke sejumlah sekolah lain. Dara dari pendamping program, perluasan program kini telah menyasar SMPN 3 Taliwang, SDN 2 Taliwang, SMPIT Imam Syafii Taliwang, serta SDN Bukit Damai Maluk. Pada 2026, pendampingan kembali diperluas ke lima sekolah lainnya, yakni SDN Sagena Poto Tano, SDN Sapugara Brang Rea, SDN Goa Jereweh, SDN Telaga Baru, dan MTsN 2 Sumbawa Barat.
Perluasan ini menunjukkan bahwa PPSS tidak hanya berorientasi pada penyelesaian masalah sampah di satu sekolah. Lebih jauh, program ini ingin membangun budaya baru pengelolaan lingkungan di tingkat masyarakat.
Sekolah menjadi tempat pertama untuk menanamkan kebiasaan tersebut. Sebab, perubahan besar sering kali dimulai dari hal sederhana. Dari seorang siswa yang memilih memilah sampah. Dari seorang guru yang mengingatkan pentingnya kebersihan. Dari sebuah rumah kompos kecil yang mengubah cara pandang terhadap sesuatu yang selama ini dianggap tidak bernilai.
Dampak yang Terukur dari Sebuah Perubahan
Apa yang terjadi di SMPN 6 Taliwang, SMPN 1 Maluk dan beberapa sekolah lainnya merupakan bagian kecil dari perubahan yang lebih besar melalui PPSS yang dikembangkan AMMAN di Kabupaten Sumbawa Barat.
Program ini lahir dari tantangan nyata pengelolaan sampah. Berdasarkan data Dinas Lingkungan Hidup Sumbawa Barat, KSB setiap tahun menghasilkan sekitar 30.000 hingga 50.000 ton sampah. Kondisi tersebut menjadi tantangan bersama, terutama dalam mengurangi sampah yang berakhir di tempat pembuangan akhir.
Melalui PPSS, AMMAN mendorong sekolah menjadi pusat perubahan perilaku. Rumah kompos tidak hanya menjadi tempat mengolah sampah, tetapi juga ruang belajar bagi siswa, guru, dan masyarakat tentang pentingnya pengelolaan lingkungan secara berkelanjutan.
Vice President Policy & Permitting and Social Impact AMMAN, Priyo Pramono, mengatakan program tersebut tidak hanya berfokus pada pengolahan sampah, tetapi membangun sistem yang dapat berjalan bersama masyarakat. Melalui program ini, guru, siswa, dan warga sekolah diberikan pengetahuan serta keterampilan agar mampu mengelola sampah secara mandiri.
Hasilnya mulai terlihat. Berdasarkan data resmi AMMAN hingga 2025, enam sekolah percontohan dalam program PPSS telah berhasil mengelola lebih dari 159 ton sampah organik dan menghasilkan lebih dari 50 ton kompos. Program tersebut melibatkan sekitar 2.491 warga sekolah, 444 rumah tangga, serta relawan karyawan AMMAN. Tidak hanya memberikan dampak lingkungan, program ini juga menghasilkan manfaat ekonomi. Nilai manfaat yang tercipta dari program tersebut mencapai sekitar Rp451 juta.
Sementara berdasarkan pengukuran Social Return on Investment (SROI), setiap Rp1 investasi yang dikeluarkan melalui program menghasilkan manfaat sosial, ekonomi, dan lingkungan sebesar Rp4,09. Angka tersebut menunjukkan bahwa pengelolaan sampah bukan sekadar kegiatan menjaga kebersihan. Jika dikelola dengan sistem yang tepat, sampah dapat memberikan manfaat yang lebih luas.

Ketika Perubahan Mendapat Pengakuan.

Perjalanan panjang PPSS akhirnya mendapat pengakuan di tingkat nasional. Pada tahun 2026 ini, PPSS AMMAN meraih penghargaan kategori Waste Management di ajang Lestari Awards 2026.
Penghargaan tersebut menjadi pengakuan atas upaya membangun sistem pengelolaan sampah berbasis sekolah yang menghubungkan pendidikan lingkungan, pemberdayaan masyarakat, dan konsep ekonomi sirkular.
Namun, bagi AMMAN, keberhasilan program tidak hanya dilihat dari jumlah sampah yang berhasil diolah atau banyaknya kompos yang dihasilkan. Ukuran keberhasilan terbesar adalah ketika kesadaran baru mulai tumbuh. Ketika siswa terbiasa memilah sampah. Ketika guru ikut menjaga lingkungan sekolah. Ketika keluarga mulai memahami bahwa sampah masih memiliki nilai.Penghargaan nasional tersebut menjadi bagian dari perjalanan panjang yang dimulai dari langkah sederhana. Dari sekolah yang dulu masih mencampur seluruh jenis sampah. Dari rumah kompos kecil dengan peralatan terbatas. Hingga akhirnya menjadi program yang memberi dampak bagi ribuan warga sekolah dan masyarakat.
Menjaga Perubahan Agar Tetap Tumbuh
Meski telah menunjukkan keberhasilan, perjalanan PPSS belum selesai. Menurut mitra pendamping program, Bambang Supriadi, tantangan terbesar adalah menjaga konsistensi. Sebab, membangun budaya membutuhkan waktu dan pendampingan yang terus menerus.
“Walaupun kita edukasi rutin, masih saja ada sampah yang tercecer. Tetapi tidak banyak,” katanya.
Menurut Bambang, keberlanjutan program juga membutuhkan dukungan berbagai pihak, terutama dalam memastikan produk kompos yang dihasilkan dapat terus dimanfaatkan.
“Harus ada siklus. Kalau kompos sudah diproduksi, harus ada yang memanfaatkan. Dengan begitu program bisa terus berjalan,” ujarnya.
Menjelang siang, aktivitas di rumah kompos SMPN 6 Taliwang mulai berkurang. Karung-karung sampah yang sebelumnya memenuhi ruangan telah dipilah. Sebagian berubah menjadi bahan baku kompos. Sebagian lainnya siap dimanfaatkan kembali.
Rumah sederhana itu tetap berdiri di sudut sekolah. Tidak besar. Tidak mewah. Namun dari tempat itulah sebuah perubahan tumbuh. Sampah yang dulu dianggap masalah kini menjadi pembelajaran. Menjadi kompos. Menjadi nilai ekonomi. Dan yang paling penting, menjadi budaya.
Dari sebuah rumah kompos sederhana, lahir sebuah gerakan yang mendapat pengakuan nasional. Sebuah perjalanan yang membuktikan bahwa perubahan besar dapat dimulai dari sesuatu yang selama ini sering diabaikan. (*)

Spread the love

COMMENTS

WORDPRESS: 0
DISQUS: