HomeSosial

Ibu, Aku akan Pulang Membawa Harapan

Ibu, Aku akan Pulang Membawa Harapan

Jejak Sukses AMMAN Menjaga Lingkungan, Sampah Pun Lahirkan Prestasi
PT GTA Beri Santunan Anak Yatim
AMMAN Ajak Media Perkuat Literasi HAKI dan KIK untuk Kemandirian Ekonomi Sumbawa

Mereka tak meminta hidup menjadi mudah. Mereka hanya ingin diberi kesempatan untuk terus belajar, mengejar cita-cita dan mengubah masa depan keluarganya. Bagi mereka yang memiliki mimpi besar, AMMAN Scholars hadir menjadi jembatan emas untuk mengubah harapan itu menjadi kenyataan.

Oleh : Zulkarnain

Seragam sekolah putih abu-abu itu hampir saja tidak menjadi bagian dari masa depannya. Bukan karena ia tidak ingin sekolah. Bukan pula karena ia tidak memiliki cita-cita. Persoalannya lebih sederhana sekaligus berat. Biaya sekolah. Di tengah keterbatasan ekonomi keluarga, melanjutkan pendidikan menjadi pilihan yang tidak mudah. Akses pendidikan yang lebih baik sering kali harus diperjuangkan dengan pengorbanan besar. Terutama bagi keluarga yang hidup dari penghasilan tidak menentu. Hingga sebuah kesempatan datang dan mengubah arah perjalanan hidupnya. AMMAN Scholars menjadi jembatan bagi mereka yang nyaris berhenti, untuk kembali melangkah mengejar masa depan. Salah satunya adalah mimpi seorang gadis remaja dari Desa Mantar Kecamatan Poto Tano yang bertekad menyelesaikan pendidikan demi mengubah masa depan keluarganya.

Namanya Sthecylia Qiandra. Bagi gadis manis 14 tahun ini, keindahan Mantar yang dikenal luas dengan sebutan negeri di atas awan selalu menyisakan ruang kosong. Sudah hampir enam tahun ia tidak pernah lagi memeluk ataupun dipeluk kedua orang tuanya. Ayahnya meninggal ketika usianya baru lima tahun. Sejak itu, ibunya, Maemunah, memilih menjadi pekerja migran di Abu Dhabi, Uni Emirat Arab. Keputusan yang tidak pernah mudah bagi seorang ibu. Tetapi kemiskinan sering kali tidak memberi banyak pilihan.
Stecy dibesarkan oleh bibinya, Jaswiah, dan pamannya, Asmono. Rumah mereka sederhana di Mantar. Tetapi di rumah itulah Stecy tumbuh bersama kasih sayang yang tak pernah kurang.
Bagi Jaswiah, Stecy bukan sekadar keponakan. Ia sudah seperti anak kandung. Sejak kecil, Stecy tinggal di rumahnya. Bersama sang suami, ia mendampingi setiap langkah kehidupan keponakannya. Biaya hidup Stecy memang tidak ditanggung sendirian. Setiap bulan, ibunya mengirim uang sekitar Rp500 ribu dari Abu Dhabi. Selebihnya dipenuhi bersama oleh keluarga di Mantar.
“Anaknya penurut dan mandiri. Saya percaya dia bisa sukses kalau diberi kesempatan,” kata Jaswiah kepada media ini.
Kesempatan itu datang ketika ia mendengar informasi tentang Program AMMAN Scholars. Jaswiah tidak tinggal diam. Ia mencari informasi, membantu mengurus berkas, memastikan seluruh persyaratan lengkap.
“Saya pikir ini kesempatan yang tidak boleh dilewatkan,” tutur Jaswiah.
Ia benar. Kesempatan itu tidak datang dua kali. Di tahun 2026, ratusan lulusan SMP dari Kabupaten Sumbawa Barat dan Kabupaten Sumbawa berebut tempat dalam Program AMMAN Scholars. Namun hanya 61 orang dinyatakan lolos. 27 orang dari Kabupaten Sumbawa. 34 siswa lagi dari Sumbawa Barat. Salah satunya adalah Stecy, si anak yatim. Stecy dan puluhan siswa lainnya berangkat sekolah ke Pulau jawa dilepas secara resmi oleh Bupati Sumbawa Barat pada 9 Juli 2026 lalu.
“Saat masih SD bahkan SMP, kadang saya merasa sedih melihat teman-teman ada yang diantar ayah atau ibunya ke sekolah. Saya tidak punya itu,” tutur Stecy melalui sambungan telephone dari Kudus, saat media ini memintanya menceritakan sedikit tentang kisah hidupnya di masa kecil, Senin (27/7) sore.


Keterangan foto: Stecy (pakai topi) bersama temannya sesama penerima beasiswa AMMAN Scholars saat keberangkatan ke sekolah tujuan

Meski begitu, ia tidak pernah membiarkan kesedihan mengalahkan mimpinya. Stecy si anak yatim ini sekarang tengah berada di Pulau Jawa. Menjadi salah satu penerima manfaat program AMMAN Scholars PT. Amman Mineral Nusa Tenggara . Si bungsu dari dua bersaudara itu sekarang sekolah di SMK NU Banat, Kudus,Jawa Tengah. Dia mengambil jurusan busana. Tapi juga gemar membaca. Suka memasak. Gadis berhijab itu bercita-cita menjadi pengusaha sukses. Bukan semata-mata agar hidupnya berkecukupan. Ia ingin membalas semua pengorbanan keluarganya.
“Saya ingin membuat ibu dan keluarga saya bangga. Saya ingin membahagiakan mereka kelak di masa tuanya,” kata Stecy.
Jumlah penerima beasiswa AMMAN Scholar tahun 2026 ini memang lebih banyak dari tahun lalu yang hanya 46 orang. Mereka sebagian berasal dari keluarga-keluarga yang memiliki mimpi besar. Tetapi dibatasi oleh kondisi ekonomi.
Untuk lolos dan terpilih sebagai penerima beasiswa, mereka melewati serangkaian tahapan yang tidak mudah. Mulai dari seleksi administrasi, penulisan esai motivasi, tes potensi akademik dan psikotes, wawancara panel hingga tes kesehatan. Yang lolos seleksi mendapat kesempatan menempuh pendidikan di SMK unggulan di Pulau Jawa, dengan biaya pendidikan, asrama, pembinaan karakter, hingga kebutuhan belajar ditanggung pihak AMMAN.
Dari semua peserta yang lolos tentu tersimpan sangat banyak cerita yang tak pernah tertulis dalam laporan kegiatan atau program. Diantaranya adalah cerita Stecy.
Hari pengumuman kelulusan menjadi hari yang tidak pernah dilupakan. Ia menangis. Bibinya menangis. Bukan tangis kesedihan. Namun itu tangis bahagia dan haru. Pamannya yang merupakan saudara kandung almarhum bapaknya juga ikut senang dan terharu. Stecy dinyatakan lolos sebagai salah satu penerima program AMMAN Scholars 2026.
dituturkan Stecy, usai memastikan dirinya lolos seleksi, ia buru-buru membuka handphonenya. Dengan cepat dia mengirim pesan whatsapp ke ibunya di Abu Dhabi. Kurang dari semenit, Hp Stecy langsung berdering. Panggilan masuk dari ibunya. Di ujung telepon, Maemunah ibunya, tak mampu menahan air mata.
“Saya sangat bersyukur. Doa saya diijabah. Saya sangat bangga kepada anak saya. Saat pertama mendapat kabar itu, saya tidak bisa menahan air mata saya. Saya menangis haru,” tutur ibu Stecy dari Abu Dhabi kepada media ini ketika dihungi via WhatsApp, Senin (27/7) malam.
Saat menerima kabar baik dari anaknya, Ibu Stecy di Abu Dhabi bahkan membagikan kabar bahagia itu kepada majikannya. Tak disangka, sang majikan saat itu juga ikut memberikan hadiah uang lebih dari Rp 2 juta sebagai bentuk apresiasi.
“Saya meninggalkan anak bukan karena tidak sayang. Saya pergi supaya hidup kami berubah. Saya hanya ingin melihat anak-anak saya berhasil,” kata perempuan tangguh yang baru berusia 38 tahun itu.
Kalimat itu sederhana. Tetapi di baliknya tersimpan rasa rindu mendalam. Rindu yang hanya bisa dititipkan melalui panggilan video dan kiriman uang setiap bulannya.
Puluhan kilometer dari Mantar, cerita lain juga tumbuh di sebuah gang kecil di Lingkungan Perate, Kelurahan Samapuin, Kabupaten Sumbawa.
Rumah panggung sederhana itu menjadi saksi perjuangan keluarga Sudirman. Setiap pagi, lelaki berusia 38 tahun itu berangkat mencari nafkah. Hari ini membajak sawah. Besok menanam padi. Lusa ikut panen. Jika di musim kemarau seperti sekarang, apa saja dikerjakan. Yang penting halal dan dapur tetap mengepul. Sementara istrinya, Nurnaningsih, membuka usaha laundry kecil-kecilan di rumah.
Di rumah itulah Reza Anugra Pratama dibesarkan. Anak sulung yang sejak kecil terbiasa membantu ayahnya membajak sawah.
Kini Reza sedang belajar Teknik Mesin di SMK Wisudha Karya Kudus. Dia menjadi salah satu penerima manfaat program AMMAN Scholars 2026. Meski baru beberapa bulan di sekolah barunya, remaja yang hobi main bola itu mulai mengenal mesin bubut, CNC, dan berbagai teknologi industri.
Sudirman tidak pernah menyangka anaknya bisa sekolah di Pulau Jawa. “Saya bahkan belum pernah ke Jawa,” kata Sudirman sambil menyeruput kopi hangat buatan istrinya saat wartawan media ini mengunjungi rumahnya di Perate Kamis (30/7) sore.

Reza dengan bangga foto di depan sekolahnya di Kudus
Keterangan foto: Reza, salah satu penerima manfaat program AMMAN Scholars berfoto dengan bangga di depan sekolahnya di Kudus

Dulu kata Sudirman, saat masih bersekolah di SMPN 3 Sumbawa, Reza kadang berangkat ke sekolah tanpa uang saku. Namun ia tidak pernah berpikir berhenti belajar. Reza juga sangat sering membantu pekerjaan bapaknya. Ketika libur sekolah. Tapi mimpinya untuk sukses tidak pernah padam.
“Saya takut kalau tidak sekolah, masa depan saya tidak akan berubah,” kata Reza melalui sambungan telephone kepada wartawan media ini (30/7) malam.
Ketika mendengar informasi tentang AMMAN Scholars, Reza langsung mendaftar. Ia tahu peluangnya kecil. Seleksinya sulit. Persaingannya ketat. Tetapi ia tetap mencoba. Hari ketika pengumuman keluar menjadi hari yang tak terlupakan. Saat itu dia sedang berada di rumah temannya. Ia membaca pengumuman itu berkali-kali. Lalu berlari pulang.
“Saya ingin ibu menjadi orang pertama yang tahu,” tutur Reza.
Mimpinya sederhana. Suatu hari bekerja di industri besar. Kalau sudah berhasil, ia ingin memberangkatkan kedua orang tuanya ke Tanah Suci.
“Bapak, Ibu, tunggu saya menyelesaikan sekolah. Insya Allah saya akan langsung bekerja,” katanya dengan penuh keyakinan.
Stecy dan Reza memang tidak pernah saling mengenal sebelumnya. Mereka berasal dari keluarga yang berbeda. Stecy kehilangan ayah dan harus merelakan ibunya bekerja ribuan kilometer dari rumah. Sementara Reza tumbuh bersama ayah yang setiap hari menggantungkan hidup dari sawah dan ibunya yang membuka laundry kecil-kecilan.
Namun keduanya dipertemukan oleh satu kesempatan yang sama. Kesempatan untuk mengubah arah hidup. Program AMMAN Scholars menjadi sebuah jembatan dan harapan bagi mereka untuk sukses.
Program ini menyiapkan generasi muda melalui pendidikan vokasi di sekolah-sekolah unggulan, pembinaan karakter, penguatan kepemimpinan, serta pendampingan agar mereka siap memasuki dunia kerja. Program ini menjadi salah satu investasi jangka panjang PT AMMAN dalam membangun kualitas sumber daya manusia di Pulau Sumbawa. Berbeda dengan bantuan pendidikan yang hanya berfokus pada pembiayaan sekolah, program ini dirancang untuk mencetak lulusan SMK unggulan yang memiliki kompetensi sesuai kebutuhan dunia industri.
Berdasarkan data resmi AMMAN, program ini pertama kali diluncurkan pada 2021. Saat itu, sasaran utamanya adalah lulusan SMP dan MTs berprestasi dari Kabupaten Sumbawa Barat (KSB) yang memiliki keterbatasan ekonomi, tetapi mempunyai semangat belajar tinggi. Para penerima beasiswa dikirim untuk menempuh pendidikan di berbagai SMK unggulan di Pulau Jawa dengan seluruh biaya pendidikan ditanggung oleh AMMAN. Mulai dari biaya sekolah, asrama, perlengkapan pendidikan, biaya hidup, hingga pembinaan karakter.
Memasuki tahun kedua pada 2022, program terus diperkuat. AMMAN tidak hanya membiayai pendidikan para siswa. Tetapi juga membangun sistem pembinaan yang menekankan kedisiplinan, kepemimpinan, kemampuan beradaptasi, serta kesiapan memasuki dunia kerja.
Perkembangan program semakin terlihat pada 2023. Program bahkan berkembang ke Pendidikan diploma. Tahun 2023 diluncurkan progran D3 Unggulan AMMAN Scholars. Dari total 137 pendaftar yang berasal dari KSB dan Kabupaten Sumbawa, 50 orang terpilih untuk kuliah tiga tahun di politeknik Astra, Cikarang.
Tahun 2024 menjadi tonggak penting perjalanan AMMAN Scholars. Untuk pertama kalinya, program diperluas hingga menjangkau Kabupaten Sumbawa. Minat masyarakat pun meningkat signifikan. Sebanyak 559 lulusan SMP dan MTs mengikuti proses seleksi yang berlangsung ketat. Dari ratusan peserta tersebut, hanya 32 siswa yang dinyatakan lolos, terdiri atas 27 siswa dari Kabupaten Sumbawa Barat dan lima siswa dari Kabupaten Sumbawa. Dengan tambahan angkatan ini, jumlah penerima manfaat sejak program dimulai telah melampaui 190 siswa.
Pada 2025, cakupan program kembali diperluas. Sebanyak 470 siswa mengikuti seleksi dan 46 orang berhasil memperoleh beasiswa. Jumlah sekolah mitra bertambah menjadi tujuh SMK unggulan dengan pilihan sekitar 12 jurusan yang mengikuti perkembangan industri kreatif dan rekayasa.
Pada 2026, AMMAN Scholars memasuki tahun ke enam penyelenggaraan. Pendaftaran dibuka pada 20 Mei hingga 13 Juni 2026 bagi lulusan SMP dan MTs dari Kabupaten Sumbawa Barat maupun Kabupaten Sumbawa. Program menawarkan cakupan beasiswa yang lebih komprehensif. Meliputi biaya pendidikan, biaya hidup, transportasi, perlengkapan sekolah, asuransi kesehatan, sertifikasi profesi nasional maupun internasional pada jurusan tertentu, serta pembinaan pengembangan diri.
Pilihan jurusan juga semakin beragam. Selain Animasi 2D dan 3D, peserta dapat memilih Desain Komunikasi Visual, Pengembangan Perangkat Lunak dan Gim, Teknik Ketenagalistrikan, Teknik Elektronika, Teknik Mesin, Teknik Pengelasan, Teknik Otomasi Industri, Teknik Alat Berat, Tata Busana, Kecantikan dan Spa, Perhotelan hingga Kuliner. Seluruh jurusan dipilih untuk menjawab kebutuhan dunia industri yang terus berkembang.
Program ini bekerja sama dengan sedikitnya delapan SMK unggulan di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Antara lain SMK Raden Umar Said Kudus, SMK NU Banat Kudus, SMK NU Ma’arif Kudus, SMK Wisudha Karya Kudus, SMK PGRI 1 Kudus, SMK PGRI 2 Ponorogo, serta SMK Brantas Karangkates. Sekolah-sekolah tersebut dikenal memiliki hubungan erat dengan dunia usaha dan industri sehingga lulusan memperoleh pengalaman belajar yang lebih aplikatif.
Meski demikian, sesungguhnya ukuran keberhasilan program ini tidak hanya bisa dihitung dari jumlah penerima beasiswa. Atau Dimana mereka bersekilah. Keberhasilannya bisa terlihat misalnya dari air mata seorang ibu di Abu Dhabi. Dari langkah seorang ayah yang terus membajak sawah sambil menyimpan harapan. Dari seorang bibi yang mengurus seluruh berkas keponakannya tanpa pernah berharap balasan. Dan setiap anak yang kini percaya bahwa keterbatasan bukan alasan untuk berhenti bermimpi.
Menjelang magrib pada Selasa (28/7), Stecy mengirim pesan whatsapp ke media ini. Katanya, baru selesai mendapat telepon dari Ibunya di Abu Dhabi. Hanya sekedar menanyakan kabar dan perkembangan belajarnya di sekolah.
Di Kudus, Reza sedang mempelajari mesin-mesin yang kelak menjadi bekalnya bekerja. Jarak memisahkan mereka. Tetapi harapan mempertemukan mereka.
Barangkali, bagi sebagian orang, beasiswa Amman ini hanyalah angka dalam laporan tahunan perusahaan. Namun bagi Stecy, beasiswa adalah jalan untuk membalas air mata ibunya. Bagi Reza, beasiswa adalah kesempatan agar suatu hari nanti ayahnya tidak lagi harus membajak sawah demi menyekolahkan anak.
Dan bagi Kabupaten Sumbawa serta Sumbawa Barat, inilah investasi yang sesungguhnya. Bukan emas yang digali dari perut bumi. Melainkan manusia-manusia muda yang kelak kembali membawa ilmu, keterampilan, dan harapan untuk membangun tanah kelahirannya. (*)

Spread the love

COMMENTS

WORDPRESS: 0
DISQUS: