HomeSosial

Ketika AI Ikut Menambang di Batu Hijau

Ketika AI Ikut Menambang di Batu Hijau

AMMAN Perkenalkan Sistem Keselamatan Pertambangan pada Mahasiswa Cordova
Ketika Laser Menjadi Mata Ketiga di Batu Hijau
AMMAN Ajak Media Perkuat Literasi HAKI dan KIK untuk Kemandirian Ekonomi Sumbawa

Di Batu Hijau, pekerjaan menambang tidak berhenti ketika batu keluar dari perut bumi. Perjalanan masih panjang. Bijih harus dihancurkan, diproses, lalu dipisahkan untuk mendapatkan mineral berharga yang terkandung di dalamnya. Di tahap inilah ada persoalan yang tak kalah penting. Bagaimana mendapatkan sebanyak mungkin mineral dari setiap ton bijih yang sudah ditambang. Sebab, tidak semua mineral berhasil dipulihkan. Di tengah persoalan itu, sebuah “pekerja” baru ikut masuk ke ruang pengolahan.

Oleh : Zulkarnain

Namanya AIDA. Panjangnya, Artificial Intelligence Dashboard Automation. Ia tidak memakai helm. Tidak mengoperasikan alat berat. Tidak pula berdiri di depan mesin. AIDA adalah sebuah tekhnologi yang memanfaatkan kecerdasan buatan Artificial Intelligence (AI) yang dikembangkan PT Amman Mineral Nusa Tenggara (AMNT) untuk membantu tim mengoptimalkan proses pengolahan mineral di Batu Hijau, Kabupaten Sumbawa Barat.
AIDA adalah sebuah system yang bekerja dengan cara berbeda dari manusia. Ia tidak turun ke tambang. Ia membaca data. Dan datanya bukan sedikit. Lebih dari 25 tahun data operasional perusahaan menjadi fondasi sistem tersebut dalam bekerja. Jutaan data historis kemudian dipadukan dengan data operasional secara real-time. Dari sana, AIDA membantu membaca perubahan kondisi proses dan menyajikan rekomendasi parameter yang dinilai paling optimal.

Jika sebelumnya para metalurgis harus menganalisis ribuan data yang terus berubah secara manual, kini AIDA membantu menyaring informasi yang paling relevan dan menyajikan rekomendasi yang dapat segera ditindaklanjuti oleh tim operasi. Di sinilah kecerdasan buatan menemukan perannya. Bukan menggantikan manusia. Melainkan membantu manusia melihat sesuatu yang terlalu besar untuk dibaca satu per satu. Bayangkan sebuah pabrik pengolahan yang terus bergerak. Kondisinya berubah. Bijih yang masuk tidak selalu mempunyai karakteristik yang sama. Parameter proses pun harus terus disesuaikan. Bagi manusia, perubahan itu berarti berhadapan dengan ribuan data. Namun bagi AIDA, data adalah bahan bakar.
Salah satu fitur yang digunakan adalah Set Point Optimizer. Sistem tersebut memberikan rekomendasi penyesuaian parameter proses, antara lain dosis reagen dan laju aliran air. Namun rekomendasi itu tidak serta-merta dijalankan. Setiap empat jam, tim operasi dan metalurgi meninjau rekomendasi yang dihasilkan AIDA. Hasil analisis AI dipertemukan dengan pengalaman orang-orang yang selama bertahun-tahun memahami karakter pabrik. Baru setelah itu keputusan penyesuaian proses dibuat. Ada pembagian kerja yang sederhana tetapi penting. Mesin membaca pola. Manusia membaca konteks.
“Ketika teknologi dan pengalaman manusia berjalan beriringan, kami mampu menghasilkan keputusan yang lebih baik dan menciptakan nilai yang lebih besar,” kata Vice President Corporate Communications AMMAN, Kartika Octaviana.
Dengan cara itu, AIDA bukanlah pengganti seorang metalurgis. Ia lebih menyerupai alat bantu yang mampu menyaring lautan informasi sebelum manusia mengambil keputusan.

Membaca yang Tak Terlihat

Pada akhirnya, semua kembali kepada satu kata: recovery. Dalam pengolahan mineral, semakin tinggi tingkat recovery, semakin banyak mineral berharga yang berhasil dipulihkan dari bijih. Di Batu Hijau, perbedaannya bisa terlihat kecil dalam angka. Tetapi pada operasi berskala besar, perubahan kecil dapat memiliki arti yang besar.
AMMAN menyebut kombinasi penyempurnaan proses dan optimalisasi berbasis AI telah meningkatkan mineral recovery sekitar 2,5 persen. Angka itu bukan berarti AI menemukan persis 2,5 persen mineral yang sebelumnya hilang. Yang meningkat adalah tingkat perolehan mineral melalui kombinasi perbaikan proses dan optimalisasi berbasis AI. Bagi operasi yang telah memiliki tingkat recovery tinggi, tambahan tersebut menjadi penting. Lebih banyak mineral berhasil dipulihkan. Lebih sedikit kandungan logam berharga yang masih tertinggal di tailings. Dan setiap peningkatan recovery berarti pemanfaatan sumber daya yang sudah ditambang menjadi semakin optimal.
Di titik inilah metafora “AI ikut menambang” menemukan maknanya. AIDA memang tidak pernah menggali satu meter pun tanah Batu Hijau. Ia tidak mengangkut batu. Tetapi setelah batu itu keluar dari tambang, AI membantu manusia mencari nilai yang masih bisa diambil darinya.
Bukan Sekadar Soal Mesin
Kartika melihat perubahan itu bukan semata-mata sebagai persoalan teknologi. Menurut dia, pengembangan AIDA merupakan bagian dari transformasi digital AMMAN untuk membangun operasi yang semakin cerdas, efisien, dan berkelanjutan. Keberhasilannya tidak hanya ditentukan oleh teknologi, tetapi juga oleh pertemuan antara data, inovasi dan keahlian manusia. Pandangan itu sejalan dengan apa yang terlihat dari sisi orang yang bekerja di bidang metalurgi.
Rama Aditya, Senior Metallurgist PT Amman Mineral Nusa Tenggara, secara terbuka membagikan informasi mengenai AIDA di LinkedIn. Ia menyebut pekerjaan tim dengan AI dan data membantu meningkatkan copper recovery dan menciptakan nilai dari proses tersebut.
Rama sendiri merupakan seorang metalurgis yang bekerja di bidang pengolahan mineral. Profil profesionalnya mencatat pengalamannya dalam pengolahan tembaga, emas, perak dan nikel, serta optimalisasi proses dan peralatan pengolahan.
Kehadiran AI di ruang pengolahan, dengan demikian, bukan cerita tentang manusia yang disingkirkan mesin. Justru sebaliknya. Mesin bekerja karena manusia memberinya data, merancang sistem, membaca hasilnya, lalu menentukan apa yang harus dilakukan.
Pertambangan sering kali dibayangkan sebagai aktivitas mengambil sesuatu dari dalam bumi. Tetapi di Batu Hijau, cerita tentang efisiensi tidak berhenti pada seberapa banyak batu yang bisa diambil. Ada pertanyaan lain yang tak kalah penting. Dari batu yang sudah diambil itu, seberapa banyak mineral berharga yang benar-benar berhasil dipulihkan?
AIDA mencoba menjawab pertanyaan tersebut dengan cara yang berbeda. Ia melihat masa lalu melalui lebih dari seperempat abad data. Ia membaca kondisi hari ini secara real-time. Kemudian ia membantu manusia menentukan langkah berikutnya. Bukan untuk mengambil alih keputusan. Melainkan agar keputusan dibuat dengan lebih banyak informasi. Pada akhirnya, mungkin inilah bentuk lain dari kegiatan menambang. Bukan menggali lebih dalam. Tetapi belajar mengambil lebih banyak nilai dari setiap ton bijih yang sudah terlanjur diangkat ke permukaan.
Di Batu Hijau, AI tidak turun ke lubang tambang. Ia bekerja di balik layar. Membaca data, mencari pola, memberi rekomendasi. Dan bersama manusia, ia ikut menambang. (*)

Spread the love

COMMENTS

WORDPRESS: 0
DISQUS: