HomeSosial

Ketika Laser Menjadi Mata Ketiga di Batu Hijau

Ketika Laser Menjadi Mata Ketiga di Batu Hijau

KTH Brang Lamar dan AMMAN Kolaborasi Hijaukan Hutan, Jaga Sumber Air di Sumbawa
Prioritaskan Temaga Kerja Lokal, AMMAN Lanjutkan Roadshow Rekrutmen di Kabupaten Sumbawa
Menjemput Hijau dari Sekolah: AMMAN Dukung Sekolah Adiwiyata Nasional di Sumbawa Barat

Di antara 100.000 ton bijih yang bergerak setiap hari, ketelitian menjadi penting. Di Batu Hijau, seberkas laser hadir sebagai mata ketiga untuk memastikan tak ada material yang luput dari pengamatan.

Oleh : Zulkarnain

Di sepanjang berjalan itu, batu-batu bergerak tanpa henti. Satu demi satu material dari tambang Batu Hijau dibawa menuju fasilitas pengolahan. Hampir 100.000 ton bijih mengalir setiap hari. Di antara material yang tampak seragam itu, sesekali dapat terselip batu berukuran terlalu besar atau benda asing non-batuan.
Bagi mata manusia, perbedaan itu tidak selalu mudah terlihat. Padahal, material berukuran ekstrem atau benda asing berpotensi mengganggu aliran bijih menuju Semi-Autogenous Grinding (SAG) Mill dan memengaruhi kelancaran proses pengolahan. Di titik inilah teknologi mulai mengambil peran. Bukan menggantikan manusia. Melainkan memberi manusia penglihatan yang lebih jauh.
Tim Metallurgi PT Amman Mineral Nusa Tenggara (AMNT) menerapkan 3D Particle Size Measurement (3DPM) berbasis laser triangulation. Sistem ini ditempatkan pada jalur conveyor sebelum material memasuki SAG Mill.
Jika kamera biasa menangkap gambar dua dimensi, laser 3D bekerja dengan membaca objek dalam tiga dimensi. Bentuk, ukuran, hingga volume material dapat dipantau secara real-time. Ketika terdapat objek yang tidak sesuai, sistem memberikan sinyal. Operator kemudian memiliki waktu untuk mengambil tindakan sebelum material melanjutkan perjalanan menuju SAG Mill.
Bagi Victor, anggota Tim Metallurgi AMMAN, teknologi tersebut memberi cara pandang yang berbeda terhadap material yang bergerak di atas conveyor.
“Implementasi teknologi 3DPM menunjukkan bagaimana inovasi dapat lahir dari kebutuhan nyata di lapangan,” ujar Victor.
Sebelumnya, pemantauan material mengandalkan kamera dua dimensi. Sistem itu membantu operator mengawasi aliran bijih. Namun, perubahan pencahayaan, warna, dan tekstur material dapat membuat objek tertentu lebih sulit dibedakan. Sementara laser, memberikan cara pandang berbeda. Ia tidak sekadar menghasilkan gambar. Ia membaca bentuk dan dimensi objek.
Bagi fasilitas pengolahan yang menangani puluhan ribu ton material setiap hari, kemampuan mengetahui kondisi material lebih awal menjadi penting. Operator memiliki kesempatan melakukan tindakan pencegahan sebelum material tersebut mencapai mesin penggiling.
Teknologi itu bekerja di sebuah bagian kecil dari rangkaian operasi yang jauh lebih besar. Batu Hijau merupakan tambang tembaga dan emas yang berada di Kabupaten Sumbawa Barat, Nusa Tenggara Barat. Untuk menghadapi peningkatan volume bijih pada masa mendatang, AMMAN memperluas kapasitas fasilitas pengolahannya. Kapasitas pabrik yang sebelumnya sekitar 35 juta ton bijih per tahun ditingkatkan menjadi 85 juta ton per tahun. Perluasan tersebut disiapkan untuk mengakomodasi peningkatan volume bijih dari Fase 8 Batu Hijau dan Proyek Elang.
Angka 85 juta ton itu memberi gambaran mengenai skala tantangan yang dihadapi. Jika kapasitas pengolahan bertambah, bukan hanya jumlah material yang meningkat. Keandalan setiap mata rantai proses menjadi semakin penting. Gangguan kecil di satu titik dapat berpengaruh pada rangkaian berikutnya. Karena itu, digitalisasi di Batu Hijau tidak berdiri sendiri.
AMMAN mengembangkan berbagai teknologi di sepanjang rantai operasional. Di area tambang, perusahaan mengembangkan teknologi seperti pemodelan 4D Blasting untuk membantu menghasilkan fragmentasi batuan dengan ukuran yang sesuai bagi proses berikutnya. Di pabrik pengolahan, 3DPM menjadi salah satu contoh bagaimana data dan teknologi digunakan untuk membantu keputusan di lapangan.
Dari sudut pandang sederhana, yang dilakukan sistem itu hanyalah “melihat batu”. Namun, pada skala industri, kemampuan melihat secara lebih presisi memiliki arti berbeda. Ia menyangkut keandalan mesin. Ia menyangkut kelancaran aliran material. Dan pada akhirnya, ia menyangkut kemampuan sebuah pabrik mempertahankan ritme produksi.

Dari Batu Hijau ke Elang

Ada alasan lain mengapa teknologi semacam itu menjadi penting. Masa depan operasi AMMAN tidak hanya bertumpu pada Batu Hijau. Sekitar 60 kilometer di sebelah timur Batu Hijau terdapat Cebakan Elang. Deposit ini merupakan salah satu deposit porfiri tembaga dan emas besar yang belum dikembangkan.
Dalam Laporan Tahunan 2024, AMMAN mencatat Elang memiliki 3,8 miliar ton sumber daya mineral, termasuk 2,5 miliar ton cadangan bijih, berdasarkan estimasi sesuai standar JORC 2024. Cadangan bijih tersebut meningkat 78,5 persen, dari 1,4 miliar ton menjadi 2,5 miliar ton dibandingkan laporan JORC sebelumnya. Angka-angka itu membuat ekspansi fasilitas pengolahan Batu Hijau memperoleh konteks yang lebih luas.
Pabrik tidak hanya dipersiapkan untuk hari ini. Ia dibangun dengan mempertimbangkan perjalanan operasi beberapa tahun ke depan. Namun, teknologi tidak otomatis menyelesaikan semua persoalan. Tetap ada manusia di balik layar. Ada operator yang membaca informasi. Ada tim Metallurgi yang menganalisis proses. Ada pekerja yang harus mengambil keputusan ketika sistem memberikan peringatan. Karena itu, 3DPM bukan cerita tentang laser yang menggantikan manusia. Sebaliknya, ini adalah cerita tentang bagaimana manusia memperpanjang kemampuan penglihatannya dengan teknologi.

Ketika Data Menjadi Bagian dari Operasi

Perubahan itu merupakan bagian dari perjalanan transformasi AMMAN. Di luar area pengolahan, perusahaan juga membangun berbagai fasilitas hilirisasi. Smelter AMMAN memiliki kapasitas input tahunan 900.000 ton konsentrat tembaga. Fasilitas tersebut dirancang menghasilkan sekitar 220.000 ton katoda tembaga per tahun dan sekitar 830.000 ton asam sulfat. Pada 2025, rangkaian hilirisasi itu memasuki tahap penting. AMMAN mencatat produksi katoda tembaga pertama pada Maret 2025, pengapalan pertama pada April, produksi emas murni pada Juli, dan produksi perak murni pada Oktober tahun yang sama. Artinya, perjalanan sebuah batu dari pit tidak berhenti ketika material keluar dari tambang. Ada rangkaian panjang setelahnya. Bijih harus diolah. Mineral berharga harus dipisahkan. Konsentrat harus dimurnikan. Teknologi digunakan di berbagai titik untuk menjaga proses tetap berjalan. Dalam rangkaian panjang tersebut, 3DPM mungkin hanya satu bagian kecil. Tetapi justru di situlah menariknya.
Transformasi industri tidak selalu hadir dalam bentuk mesin raksasa atau bangunan baru. adang ia hadir sebagai seberkas cahaya laser yang menyapu batu-batu di atas conveyor. Ia bekerja tanpa suara. Memindai. Mengukur. Membaca. Lalu mengirimkan informasi kepada manusia yang berada di balik ruang kendali.
Bagi AMMAN, teknologi seperti 3DPM merupakan bagian dari upaya membangun operasi yang semakin terintegrasi dengan dukungan data dan inovasi. Komitmen itu juga tercermin dari berbagai pengakuan yang diterima perusahaan. Pada 28 September 2023, AMMAN menerima dua Penghargaan Subroto dari Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral. Salah satunya terkait inovasi. Pada 24 September 2025, AMMAN juga meraih PRISMA Award dari Kementerian Hak Asasi Manusia dengan skor 80 dalam kategori Green.
“Penghargaan ini menjadi bukti komitmen kami dalam mengelola risiko HAM secara sistematis dan mengintegrasikan prinsip keberlanjutan,” kata Kartika Octaviana, VP Corporate Communications AMMAN.
Pernyataan itu menunjukkan bahwa transformasi yang dibangun perusahaan tidak hanya berbicara tentang mengejar produksi. Ada pula upaya mengintegrasikan teknologi, keberlanjutan, keselamatan, dan tata kelola ke dalam operasi.
Di tengah arus hampir 100.000 ton bijih setiap hari, 3DPM menjadi salah satu mata yang membantu manusia melihat lebih awal. Dan ketika kapasitas pengolahan dipersiapkan menuju 85 juta ton bijih per tahun, kemampuan untuk melihat lebih awal menjadi semakin penting. Sebab dalam industri dengan skala sebesar Batu Hijau, menjaga produksi bukan hanya soal seberapa banyak batu yang dapat dipindahkan. Kadang, semuanya bermula dari kemampuan untuk melihat satu batu yang tidak semestinya berada di sana. (*)

Spread the love

COMMENTS

WORDPRESS: 0
DISQUS: