HomeKSB

Talonang Baru Butuh Perhatian dan Sentuhan

Talonang Baru Butuh Perhatian dan Sentuhan

Sekolah di Talonang Baru Butuh Sumur Bor dan Jaringan Internet
Jalan ke Talonang Baru Tertimbun Material Longsor
Politisi PAN Dorong Pemda KSB Segera Buka Pangkalan di Talonang Baru

Desa Talonang Baru , Kecamatan Sekongkang merupakan desa terjauh dari pusat pemerintahan Kabupaten Sumbawa Barat (KSB). Perbatasan Kecamatan Lunyuk,  Kabupaten Sumbawa dengan dengan Sumbawa Barat.
Desa eks transmigrasi ini, dihuni warga berasal dari berbagam suku. Dalam kehidupan sosial kemasyarakatan, mereka hidup rukun dan damai sehingga terwujudnya pembangunan dari segala aspek.

ISHAK-SUMBAWA BARAT

Untuk menuju desa tersebut, tidaklah sulit. Ditempuh sekitar 3 jam dari pusat KSB, dengan mengunakan moda transportasi darat. Kendaraan roda dua, roda empat maupun jenis lainnya lainnya. Bagi warga maupun wisatawan yang penasaran dan ingin melihat secara langsung desa tersebut, selama perjalanan dipastikan tidak membosankan dan akan merasa takjub dengan Sumber Daya Alam (SDA) yang dimiliki wilayah selatan KSB tersebut. Teruma, potensi sektor pariwisata. Dari Desa Sekongkang Bawah pusat Kecamatan Sekongkang, sudah mulai disuguhkan pemandangan pantai dengan gulungan ombak laut selatan yang selama ini kerap dikinjungi wisatawan mancanegara untuk berselancar.
Pun tempat penginapan yang refresentatif nan nyaman bagi wisatawan, tidaklah sulit dan pilihannya cukup banyak. Di sejumlah obyek pariwisata tersedia hotel dan villa. Cocok untuk istirahat dan liburan bersama kerabat dan keluarga.
Dari Desa Sekongkang Bawah, sebelum sampai Desa Talonang Baru, perjalanan melewati, Desa Tonggo dan Desa Ai Kangkung. Meski perjalanan melalui tengah hutan lindung. Dipastikan selama perjalanan tidak ada kendala, karena jalannya telah diaspal Hotmix. Dalam perjalanan mata kembali dimanjakan pemandangan alam hutan lindung nan asri ditumbuhi pohon berbagai jenis kayu rimba. Dalam perjalanan sesekali, terdengar dan suara berbagai jenis satwa yang hidup di hutan lindung diantaranya burung dan rusa yang selama ini tetap dilindungi.
Sepanjang jalan miliki Provinsi NTB, di badan jalan, terlihat tiang listrik dan telepon yang walaupun beberapa titik diatas kabel listrik dan telepon terdapat dahan kayu dan pohon kayu besar, perlu dilakukan pembersihan. Karena dikhawatirkan sewaktu-waktu bisa tumbang menimpa kabel listrik. Berakibat suplay arus listrik beberapa Desa bagian selatan terganggu dan mengakibatkan terjadinya pemadaman wilayah selatan tersebut.
Setelah melalui 3 jam perjalanan dari Kecamatan Tiwang pusat pemerintahan Kabupaten Sumbawa Barat (KSB), tibalah di Desa Talonang Baru. Pertama masuk desa disambut dari Dusun Lemar Lempo, sudah terlihat hamparan lahan pertanian yang luas, mencapai sekitar 1800 hektare (ha). Saat ini (musim kemarau) lahan pertanian yang luas nan datar itu, tampak gersang. Karena lahan tadah hujan yang hanya bisa ditanam satu kali setahun. Karena tidak ada sumber mata air maupun sarana irigasi penunjang lainnya, sebagai alternatif untuk mengairi lahan pertanian nan cukup luas. Selama ini, pemilik lahan hanya bisa ditanam jagung saat musim hujan.
Kepala Desa Talonang Baru saat puluhan wartawan saat melakukan ekspedisi Talonang didukung PTAMNT mengungkapkan, sebenarnya Desa Talonang Baru, memiliki Sumber Daya Alam (SDA) yang memiliki prospek untuk dikembangkani. Terutama sektor pertanian secara umum. Namun ketersedian SDA, baru sebagian kecil dikelola oleh warga setempat. Hanya ditanami jagung, satu kali setahun. Karena rata-rata lahan tadah hujan. Belum tersedia sarana pendukung irigasi untuk mengairi lahan pertanian warga seribu Ha lebih tersebut.
Selama ini pemilik lahan dengan luas areal tanam 1 hingga 3 Ha per per Kepala Keluarga (KK) mengarap lahannya , hanya untuk mempertahankan hidup. Karena, hasil panen, sebagian besar membayar pinjaman di Bank. ”Memasuki musim tanam, sebagian besar petani dengan terpaksa mengambil pinjaman modal usaha di bank,” katanya.
Jika tidak mengambil pinjaman modal, petani tidak bisa mengarap lahan. Karena tidak ada biaya.
Kendala yang dialami petani jagung. Bukan hanya, masalah modal. Petani dihadapkan masalah ketersedian pupuk. Memasuki usia pemupukan. Pupuk kerap langka. Kondisi ini dialami petani, setiap tahun. Untuk mendapatkan hasil maksimal, sebagian petani mencari pupuk ke tempat lain (sekitar wilayah Kecamatan Sekongkang, red). Bahkan hingga luar Kecamatan Sekongkang,” cetusnya.
Meski masalah pengembangan sektor pertanian, penopang utama sumber pendapatan ekonomi keluarga. Warga masyarakat yang mayoritas petani, tidak menyerah menanam jagung setiap tahun di atas lahan tadah hujan tersebut . Karena hingga saat ini, pemerintah belum mampu menyediakan sarana pengairan yaitu sumur bor sumber air utama mengairi lahan pertanian nan luas tersebut.
Meski demikian, para petani yang selama ini kerap merugi, berkeyakinan pemerintah tidak sedang tidur dan optimis mengatasi persoalan ketersediaan air untuk mengairi lahan pengembangan tanaman jagung di Desa Talonang Baru.
Rasa optimistis petani akan hadir sumur bor semakin tergugah dengan dihadirkan project food estet yang dalam pelaksanaannya beberapa tahun lalu dikawal langsung oleh TNI-AD yang dalam pelaksanaannya , melibatkan pemerintah Pemprov NTB. Namun, hingga saat ini tujuan besar dari rencana program itu, masih minim. Jika keberadaan food estet ini dilengkapi sarana dan prasarana penunjang pertanian, berdampak positif peningkatan ekonomi masyarakat setempat. Sebab luas lahan food estet yang diberikan pemerintah dikelola masyarakat cukup luas, mencapai 100 Ha. Di kelola empat kelompok tani. Masing-masing kelompok mengarap lahan 25 Ha.
Programnya sendiri, sesuai rencana program jangka pendek, ditanami jagung. Program jangka panjang, ditanam buah-buahan dan kayu minyak kayu putih. Hingga saat ini, baru dimanfaatkan oleh masing-masing kelompok tani menanam jagung. Sedangkan pengembangan program jangka panjang belum dilaksanakan. Karena tidak ada sarana sumber mata air. Untuk mendukung pengembangan lahan food estet, dibutuhkan sumur bor sekitar empat unit. Saat ini baru di bangun satu unit. Sumur bor yang ada saat ini, belum dimanfaatkan. Karena belum dilengkapi saluran irigasi. Jika lahan food estet dilengkapi sarana pengairan. Oleh pengarap, masing-masing kelompok juga bisa dimanfaatkan tanaman hortikultura.
Jika sarana ketersedian air untuk mengairi lahan pertanian yang menjadi kendala utama petani segera diatasi pemerintah maupun pihak swasta. Ke depan Desa Talonang Baru optimis mampu mensuplat kebutuhan sayur mayur di pasaran KSB yang selami ini, menjadi perhatian bupati Sumbawa Barat sejak priode pertama, hingga akan berakhir masa jabatan priode ke dua, belum terwujud.
Karena sebagian besar kebutuhan sayur mayur di KSB masih didatangkan dari daerah tetangga, pulau lombok dan Kabupaten Sumbawa, serta dari Kabupaten Bima dan Dompu.
Pemenuhan sayur mayur nantinya. Tidak hanya memenuhi kebutuhan pasar KSB. Bahkan berupaya memenuhi kebutuhan sayur mayur perusahaan tambang batu hijau milik PTAMNT.
Potensi SDA sektor pertanian Desa Talonang Baru, tidak hanya cocok tanaman jagung dan pengembangan perkebunan. Juga cocok peternakan hewan besar. Utamanya sapi setiap tahun populasinya bertambah. Berdasarkan hasil registrasi ternak tahun 2022, populasi ternak hewan besar mencapai sekitar 800 ekor lebih. Terbanyak di Kecamatan Sekongkang.
Namun pengembangan ternak, terkendala pakan. Terutama saat musim tanam. Tidak ada lahan kosong untuk mengembala.
Dengan belum tersedianya sarana dan prasarana penunjang sektor pertanian yang refresentatif, pemilik lahan sangat mendambakan hadirnya sumur bor dilengkapi saluran irigasi disemua titik. Minimal keberadaan sarana pengairan nantinya bisa ditanami satu musim. Apalagi bisa dua kali tanam. Tidak seperti selama ini, setiap musim tanam mengandalkan hujan.

”Kalau curah hujan bagus, hasil panen petani lumayan bagus. Sebaliknya, jika curah hujan kurang seperti beberapa tahun lalu, dipastikan petani mengalami gagal panen. Karena untuk menyelamatkan tanaman jagung tidak ada sumber mata air,”jelasnya.
Jika ke depan pemerintah berkomitmen menyediakan sarana pengairan pertanian, seperti yang dijanjikan selama ini, dipastikan petani mengarap lahan ditanami jagung maupun jenis tanaman lainnya bisa dua kali satu tahun.
Terutama tanaman jagung. Sebab tanaman jagung yang selama ini menjadi sumber pendapatan pokok ekonomi keluarga. Juga dimanfaatkan bahan baku pakan ternak. Limbah jagung diolah dijadikan sebagai pakan ternak. Tapi lagi-lagi kendalanya peralatan alat dan SDM.
Karena itu untuk menggairahkan potensi sektor pertanian, dukungan pemerintah maupun swasta pemenuhan sarana irigasi dan peningkatan Sumber Daya Manusia (SDA) sangat diharapkan.
Terutama keterlibatan PTAMNT melalui berbagai program pemberdayaan masyarakat berkelanjutan yang cocok dikembangkan oleh warga masyarakat.
Apalagi Desa Talonang Baru tidak jauh dari lokasi operasional tambang batu hijau, masuk wilayah lingkar tambang.
Meski Desa Talonang Baru katanya, jarang dikunjungi management PTAMNT.
Dia berharap program pemberdayaan berkelanjutan dapat dirasakan untuk dikembangkan warga masyarakat.
”Prospek pengembangan program pemberdayaan berkelanjutan di Desa Talonang Baru cukup banyak untuk dikembangkan. Tinggal bagaimana keseriusan manajemen PTAMNT mengembangkan dan memperhatikan pembangunan desa berada wilayah lingkar tambang,” seraya menambahkan, semua pihak terketuk hatinya membangun fasilitas pertanian Desa Talonang Baru. Satu-satunya yang diharapkan warga saat inihanya sumur bor. Sedangkan embung dan cek dam tidak butuhkan.
Karena, posisi sungai berada dibawah dataran lahan pertanian. Embung yang ada saat ini. Dibangun oleh pemerintah beberapa tahun lalu, tidak bisa dimanfaatkan untuk mengairi lahan pertanian milik warga masyarakat, dengan jumlah penduduk mencapai sekitar 570 Kepala Keluarga (KK).
”Semoga keberpihakan pemerintah dan swasta mengatasi persoalan petani menjadi solusi keberpihakkan pemerintah terhadap warga desa Talonang Baru yang selama terus berupaya keluar dari kondisi yang dialami saat ini,” pungkasnya. (*)

Spread the love

COMMENTS

WORDPRESS: 0
DISQUS: 0