HomeSosial

Smelter Rampung, Konveyor Belt Berproses, Sumbawa Dapat Apa?

Smelter Rampung, Konveyor Belt Berproses, Sumbawa Dapat Apa?

Rekrutmen Naker Smelter, Sumbawa Protes dan Minta Perusahaan Transparan
Proyek Smelter Penyumbang Investasi Terbesar NTB
Pemda Berupaya Tingkatkan Serapan Tenaga Kerja Lokal di Smelter

Oleh: Zulkarnain
Proyek Smelter di Kabupaten Sumbawa Barat (KSB) sudah rampung. Siap digunakan. Konveyor belt yang membentang dari wilayah Elang Dodo Sumbawa ke stockpile Smelter di Maluk -KSB saat ini terus berproses. Proyek Elang Dodo dengan cadangan 2,3 miliar ton sebentar lagi menyusul. Lalu Sumbawa dapat apa?
Pertanyaan itu sebenarnya sudah muncul sejak lama. Namun lebih tajam lagi pasca 18 Juli 2026. Saat PT Amman Mineral Industri menandatangani Provisional Acceptance Certificate (PAC) Smelter di Beijing. Seminggu kemudian tepatnya pada 25 Juli 2026 pihak perusahaan menyampaikan pengumuman resmi. Investasinya tidak tanggung-tanggung. Nilai pembangunannya disebut mencapai Rp21 triliun. Produknya katoda tembaga, asam sulfat, emas, perak.
Di balik semua kemegahan proyek itu, ada fakta dan data yang harus menjadi perhatian. Data di Disnakertrans Sumbawa pada pertengahan tahun 2025 saja mencatat 1.721 pencari kerja. Mereka menyebar di 24 kecamatan se Kabupaten Sumbawa. Miningkat seginifikan. Data yang dirilis BPS akhir 2025 masih terdapat sekitar 7.800 orang yang menganggur di Kabupaten Sumbawa. Meski Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) turun menjadi 2,60 persen dari 2,67 persen pada 2024, angka tersebut menunjukkan bahwa ribuan warga masih membutuhkan akses terhadap pekerjaan. jumlah yang cukup banyak. Tapi bukan berarti tidak ada solusi. Penggarapan blok Elang Dodo akan menjadi salah satu tumpuan.

Laporan JORC per 31 Desember 2024 mencatat cadangan Elang naik 79% jadi 2,5 miliar metrik ton. Kandungan tembaga 17,8 miliar pon, naik 71%. Emas 26,4 juta ons, naik 76%. Ini salah satu deposit tembaga-emas porfiri terbesar di dunia yang belum digarap. Penambangan dijadwalkan 2030-2046 di wilayah selatan Kabupaten Sumbawa. Artinya 4 tahun lagi Sumbawa resmi jadi daerah penghasil terbesar. Kalau dari sekarang tidak disiapkan, Sumbawa hanya akan mendapat debu dan ampas. Gelagatnnya bahkan sudah mulai terlihat. Pengolahan akan dipusatkan di Smelter KSB.
Jantung hilirisasinya nanti ada di konveyor belt. Bahan mentah hasil tambang di blok Elang akan dipindahkan ke stockpile smelter di KSB. Bisa 24 jam nonstop. Secara teknis ini hebat. Tapi secara sosial politik ini rawan. Karena material digali di Sumbawa. Diolah di KSB. Pajak, PDRB, dan lapangan kerja besar tentu jatuh ke KSB. Sumbawa dapat debu, getaran, dan jalan rusak dari aktivitas pendukung.

Ketua LSM Lingkar Hijau asal Lantung, Muhammad Taufan, mengingatkan sejak awal.
“Kami mendukung eksploitasi Blok Elang. Tapi Sumbawa wajib jadi prioritas. Baik pembangunan infrastruktur tambang, hingga serapan tenaga kerja. Dalam proyek pembangunan conveyor dan basecamp di wilayah Elang, masyarakat Sumbawa harus benar-benar diprioritaskan,” tegasnya.

Pemda dan DPRD Sumbawa juga tidak tinggal diam melihat potensi besar ini. Bupati Sumbawa Ir. H. Syarafuddin Jarot menegaskan eksploitasi Blok Elang tentu membawa harapan besar bagi masyarakat Sumbawa, Terutama wilayah selatan. Namun bupati ingin memastikan bahwa manfaat ekonomi tidak hanya berhenti di lingkar industri. Tapi bisa menyebar luas ke masyarakat, terutama tenaga kerja lokal dan UMKM daerah. Aspek lingkungan juga jangan dikorbankan.
Peringatan senada juga datang dari Ketua DPRD Sumbawa Nanang Naziruddin. Sebagai wakil rakyat, DPRD akan mengawal agar tenaga kerja lokal mendapat prioritas dalam rekrutmen. Jangan sampai warga hanya jadi penonton di tanah sendiri. Pendapatan daerah harus tumbuh seiring berjalannya proyek. Jangan sampai hanya pusat yang diuntungkan. DPRD berkomitmen mengoptimalkan fungsi pengawasan agar proyek berjalan sesuai prinsip keadilan, keberlanjutan, dan kesejahteraan masyarakat lokal.

Selain dari para pemimpin daerah, suara kritis juga terus muncul dari bawah. Para kades terutama di wilayah lingkar tambang juga memberi warning. Mereka memang mengaku bangga ada emas. Tapi mereka juga takut jadi penonton. Pihak Perusahaan harus memberi perhatian lebih.
Ada banyak tuntuntan dari Kabupaten Sumbawa agar proyek Elang nantinya tidak menjadi luka baru. Agar smelter dan Elang benar-benar berkelanjutan. Bisa saja dengan adanya kontrak kerja proporsional tentang persentase rekrutmen tenaga kerja. Baik Kabupaten Sumbawa, KSB maupun NTB dan luar NTB. Pembangunan sekolah atau akademi yang benar-benar focus mempelari tambang. Menjadikan Sumbawa Selatan yang merupakan wilayah Garapan sebagai Kawasan industry baru di Kabupaten Sumbawa.

Pihak AMMAN memang menyatakan komitmennya pada praktik pertambangan yang bertanggung jawab dan berkontribusi nyata bagi masyarakat. Presdir AMMAN Rachmat Makkasau juga menegaskan butuh dukungan pemerintah dan komunitas sekitar untuk eksekusi proyek mega ini. Di bidang K3, AMMAN mengklaim capaian Zero Fatality 2025 dan ingin pesan keselamatan berdenyut di setiap detak jantung pekerja.

Nah, semua komitmen itu sekarang diuji. Saat konveyor belt masih berproses dan Elang 2,5 miliar ton menunggu 2030. Pihak Perusahaan memang berkomitmen praktik pertambangan bertanggung jawab. Bupati Jarot meminta manfaat garapan Elang menyebar. DPRD minta semua mgnawal. Inilah momentumnya. Ini saatnya. Jangan menunggu tahun 2030 baru kita semua bersuara, bertanya, protes dan ribut. Jangan sampai di 2031 kita menulis lagi dengan judul dan ulasan yang lebih tidak masuk akal. “Cadangan dari Sumbawa. Smelter di KSB. Anak Sumbawa merantau.”
Karena keberlanjutan sejati bukan diukur dari panjang konveyor atau besarnya cadangan. Tapi dari berapa banyak anak Lunyuk, Lenangguar, Lantung dan Ropang yang bisa bilang. “Saya kerja di tambang di tanah saya sendiri,”. Itu baru berkelanjutan. Itu baru adil. Itu baru Indonesia Emas. (*)

Spread the love

COMMENTS

WORDPRESS: 0
DISQUS: