Lombok Timur (13 Juni 2025) – Angin sejuk berhembus lembut di bawah langit sekitar kawasan Balai Taman Nasional Gunung Rinjani (BTNGR), Kabupaten Lombok Timur, Provinsi NTB. Cuaca pada hari itu cukup bersahabat bagi para pengguna kendaraan roda dua dan roda empat yang melintasi jalan penghubung sejumlah wilayah di bagian Utara Kabupaten Lombok Timur.
Setelah menempuh perjalanan sekitar satu jam dari Kecamatan Suele, rombongan touring camp PWI Sumbawa Barat, yang melibatkan Pemerintah Desa se-Kecamatan Brang Ene dan Pemda Sumbawa Barat, tiba di objek pariwisata kerakyatan Sembalun. Seketika, rasa lelah selama perjalanan terbayarkan oleh pesona deretan anak gunung di bawah kaki Gunung Rinjani yang berdiri kokoh menyambut puluhan rombongan.
Tak kalah memikat, suasana di lembah Rinjani menyuguhkan pesona alam yang terus mengikat pandangan mata. Hamparan lahan pertanian luas milik warga Desa Sembalun Bumbung dan Desa Sembalun terlihat hijau memikat. Sayur-mayur dan berbagai jenis buah-buahan tumbuh subur, memanjakan setiap tamu yang baru pertama kali menginjakkan kaki di sana.
Konon, masyarakat di dua desa tersebut mayoritas bekerja sebagai petani dan sempat kesulitan memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga. Sejak dahulu, mereka hanya mengandalkan hasil panen padi dan palawija sebagai sumber pendapatan utama.
Namun, ketika pariwisata kerakyatan mulai menggeliat, masyarakat setempat terdorong mengubah pola tanam. Mereka beralih dari tanaman musiman ke jenis tanaman yang menghasilkan pendapatan harian secara lebih pasti, seperti sayur dan buah-buahan. Perubahan ini menjadi penyelamat ekonomi warga.
Meskipun demikian, hasil panen harian yang melimpah ini sering kali menyebabkan harga sayur dan buah anjlok di pasaran. Peluang ini dimanfaatkan oleh sejumlah warga untuk mengubah bahan mentah menjadi berbagai jenis produk olahan. Usaha rumahan yang dihasilkan oleh sejumlah pelaku usaha home industry saat ini mendapat respons positif di pasar nasional hingga mancanegara. Selain itu, usaha pertanian yang dijalankan oleh sejumlah petani juga dijadikan tempat wisata. Sehingga di objek pariwisata kerakyatan Sembalun, banyak ditemukan destinasi wisata. Di antaranya, destinasi wisata stroberi, sayur mayur, dan kopi, serta destinasi pariwisata lainnya. Destinasi pariwisata yang diciptakan warga setempat hampir setiap hari ramai dikunjungi wisatawan, baik lokal, regional, nasional, maupun mancanegara.
Seperti dikatakan Ahmad, sejak mulai dibuka, tingkat kunjungan wisatawan ke sejumlah destinasi pariwisata Sembalun setiap hari cukup ramai dikunjungi wisatawan, terutama pada akhir pekan. Dengan potensi ini, tidak heran sebagian warga setempat beralih dari petani menjadi pelaku usaha pariwisata.
Meskipun demikian, dalam menjalankan kegiatan usaha pariwisata, mereka sering menghadapi masalah dan kerugian akibat kendala dalam manajemen pengelolaan dan pembiayaan. Permasalahan ini dipantau oleh manajemen PTAMNT melalui program tanggung jawab sosial kepada masyarakat. Perusahaan tambang yang mengelola emas dan tembaga di blok Batu Hijau Benete, Kecamatan Maluk, Kabupaten Sumbawa Barat, ini bersama organisasi nirlaba Forward Indonesia menginisiasi program pemberdayaan yang dinamakan Gerakan UMKM Mandiri untuk Inisiatif Pariwisata Hijau, atau Gumi Seri. Program yang mulai dilaksanakan pada bulan Januari tahun 2025 lalu ini berfokus pada pembinaan dan pendampingan pengelolaan manajemen usaha bagi para pelaku UMKM.
Aji Suryanto, Senior Manager Social Impact PTAMNT, menjelaskan bahwa program pendampingan yang dilaksanakan PTAMNT bersama organisasi nirlaba Forward Indonesia merupakan program pendampingan pelaku UMKM. Melalui program ini, pelaku UMKM diberikan pelatihan dan pendampingan dalam pengelolaan keuangan, manajemen usaha, hingga analisis pengelolaan bisnis menggunakan bagan Business Model Canvas.
Sejauh ini, pendampingan di Kabupaten Lombok Timur telah dilakukan di dua Kecamatan, yaitu Kecamatan Sembalun dan Kecamatan Jeruwaru, masing-masing melibatkan 20 pelaku UMKM.
Setelah berjalan sekitar satu tahun, pengelolaan manajemen usaha pelaku UMKM semakin tertata. Yang awalnya mengelola keuangan berdasarkan ingatan, kini mereka mulai terbiasa dengan pembukuan yang rapi. Hasilnya, para peserta kini memiliki arah usaha yang lebih terstruktur untuk meningkatkan daya saing bisnis mereka.
Salah satu pelaku UMKM binaan program pendampingan Gumi Seri PTAMNT, Sri Azizah, pengelola Homestay Tapak Rinjani, mengakui bahwa sebelum mendapatkan pendampingan dan pelatihan dari program PTAMNT, hasil usaha yang dijalankan kurang tertata, sehingga sering mengalami kerugian. Kerugian yang dialami dipicu oleh perhitungan bisnis yang tidak mencakup semua aspek, hanya menghitung keuntungan dari penjualan produk. Setelah dilakukan pendampingan, kini usahanya semakin maju dan menambah jenis kegiatan usaha. Dari hasil usahanya, ia bahkan bisa membangun tempat penginapan dan sejumlah usaha rumahan lainnya yang mendukung usaha pariwisata kerakyatan Sembalun.
Senada dengan Sri Azizah, Desi Wida Hadiana, pemilik kedai kopi, juga merasakan kemajuan usahanya setelah mendapatkan pendampingan dari PTAMNT. Omset yang dihasilkan setiap bulan cukup besar, sekitar Rp6 Juta hingga Rp7 Juta.
Intinya, keterlibatan PTAMNT melalui program tanggung jawab sosialnya sangat membantu mengembangkan usaha. Bahkan, produk rumahan yang dihasilkan pelaku UMKM Sembalun mampu bersaing di pasar nasional hingga mancanegara.
“Berkat program tanggung jawab sosial dari PT AMMAN ini, produk rumahan buatan masyarakat Sembalun kini tidak hanya dikenal di dalam negeri, tetapi sudah merambah pasar internasional,” katanya.
Dari perspektif pengembangan pariwisata berbasis kerakyatan di Sembalun, Kabupaten Lombok Timur, masyarakat memegang peranan yang sangat strategis. Mereka secara mandiri mengidentifikasi dan menciptakan peluang usaha di sektor pariwisata dari berbagai aspek.
Pariwisata berbasis kerakyatan di Sembalun ini sejalan dengan rencana Pemerintah Daerah Sumbawa Barat yang secara berkelanjutan mendorong pembangunan sektor pariwisata, salah satunya dengan menciptakan destinasi wisata jalur joging di Kecamatan Brang Ene.
Sebagaimana disampaikan oleh Sekretaris Daerah Sumbawa Barat, drh. Hairul, pembangunan sektor pariwisata merupakan investasi jangka panjang yang mendukung perekonomian keluarga masyarakat KSB. Berbeda dengan sektor pertambangan yang memiliki batas waktu operasional, seperti tambang Batu Hijau milik PTAMNT yang selama ini menjadi sumber pendapatan dan akan berakhir pada tahun 2029 mendatang. (IM)


COMMENTS