MALUK (30 September 2026)— Rutinitas pengolahan sampah organik menjadi kompos mendorong SDN Bukit Damai Maluk untuk berpartisipasi dalam mewujudkan sekolah peduli dan berbudaya lingkungan melalui Program Adiwiyata.
Keseriusan tersebut ditunjukkan dengan keikutsertaan SDN Bukit Damai Maluk dalam sosialisasi Program Sekolah Adiwiyata yang diselenggarakan Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Sumbawa Barat pada 24 September 2026 di Taliwang.
Kepala SDN Bukit Damai Maluk, Rusdin, S.Pd., mengatakan seluruh guru dan tenaga administrasi telah sepakat untuk berupaya meraih penghargaan Sekolah Adiwiyata Kabupaten Sumbawa Barat tahun ini.
“Semua guru dan tenaga administrasi sepakat untuk mengikuti dan meraih penghargaan Adiwiyata tahun ini. Apalagi sekolah kami sudah memiliki prasarana rumah kompos yang menjadi salah satu bagian penting dalam pengelolaan lingkungan sekolah,” ujar Rusdin.
Menurutnya, keberadaan rumah kompos menjadi salah satu modal penting bagi SDN Bukit Damai Maluk dalam mengikuti penilaian Adiwiyata. Fasilitas tersebut menunjukkan bahwa upaya pengelolaan lingkungan di sekolah telah dilakukan secara nyata dan berkelanjutan, khususnya dalam aspek pengelolaan sampah. Rumah kompos tidak hanya mengolah sampah organik yang berasal dari lingkungan sekolah, tetapi juga menerima sampah organik dari warga sekitar, rumah siswa, hingga sampah organik dari pasar. Artinya sekolah kami juga ikut berkontribusi mengelola sampah di lingkungan sekitar sekolah.
SDN Bukit Damai Maluk juga memiliki Program Pengelolaan Sampah Sekolah (PPSS) yang mendapat dukungan PT Amman Mineral Nusa Tenggara. SDN Bukit Damai mengikuti program tersebut sejak 2022 dan mendorong sekolah melakukan pengelolaan sampah secara sistematis, terpadu dan berkelanjutan.
Tim Ahli PPSS, Bambang Supriadi, menjelaskan bahwa keterlibatan seluruh warga sekolah dalam pengelolaan sampah telah memberikan hasil yang signifikan. Karena itu, menurutnya, semangat SDN Bukit Damai Maluk untuk mengikuti Program Adiwiyata merupakan perkembangan yang positif.
“Pengelolaan sampah tidak berdiri sendiri. Aksi tersebut dapat mendorong implementasi aspek lingkungan lainnya, seperti kebersihan, sanitasi dan drainase, keanekaragaman hayati, konservasi energi, serta konservasi air,” jelas Bambang.
Ia menambahkan, pengelolaan sampah di SDN Bukit Damai Maluk telah menerapkan prinsip pemilahan dan pemanfaatan. Sampah organik diolah menjadi pupuk organik, sampah anorganik yang memiliki nilai ekonomi dikumpulkan untuk dijual, sedangkan sampah sisa atau residu dibawa ke TPA.
Kompos yang dihasilkan kemudian dimanfaatkan untuk pemupukan tanaman di lingkungan sekolah. Dedaunan yang berguguran maupun sampah organik dari aktivitas sekolah dikumpulkan dan diolah di rumah kompos.
“Dengan pola seperti ini tercipta siklus organik yang saling mendukung. Sampah organik kembali menjadi sumber unsur hara bagi tanaman, sementara sampah yang masih bernilai ekonomi dimanfaatkan dan hanya residu yang dibuang ke TPA,” kata Bambang.
Selain mengikuti PPSS, SDN Bukit Damai Maluk saat ini juga menjadi sekolah imbas SMPN 1 Maluk. Melalui program tersebut, sekolah mendapatkan pembinaan dan penyuluhan materi Adiwiyata dua kali dalam sebulan.
SMPN 1 Maluk sendiri merupakan sekolah Adiwiyata Nasional pertama di Kabupaten Sumbawa Barat dan saat ini tengah mempersiapkan diri menuju Sekolah Adiwiyata Mandiri.
Bambang berharap pengalaman SMPN 1 Maluk dapat menjadi inspirasi bagi sekolah-sekolah imbas, khususnya SDN Bukit Damai Maluk.
“Secara fisik dan praktik pengelolaan lingkungan, SDN Bukit Damai Maluk sudah memiliki modal yang cukup. Tinggal bagaimana seluruh warga sekolah menjaga konsistensi dan melengkapi aspek-aspek penilaian Adiwiyata,” pungkasnya.


COMMENTS