SUMBAWA- Puluhan ternak warga yang berada di wilayah Gili Ngali Desa Labuan Kuris Kecamatan Lape dilaporkan mati terkapar. Dari informasi para peternak, banyaknya kerbau yang mati di wilayah tersebut sudah terjadi sejak Februari 2024 lalu. Bahkan berlanjut hingga awal Maret ini.
Mendapat informasi tersebut Tim UPT Prokeswan Kecamatan bersama dipimpin KUPt bersama dua dokter hewan serta beberaoa staf dan didamping pemerintah Desa Labu Kuris turun ke lokasi beberapa hari yang lalu.
“Saat tim sampai di lokasi, sudah ada beberapa orang pemilik ternak yang melaporkan kasus kematian ternak kerbau mereka,” kata Kabid Kesehatan Hewan Dinas Peternakan Kabupaten Sumbawa drh. Rini Handayani, M.Si saat dikonfirmasi Rabu (13/3).
Katanya, dari informasi yang disampaikan peternak bahwa kejadian kasus kematian ternak di lokasi Tenar Gili Ngali ini sdh terjadi mulai dari bulan Februari yang mana saat itu kondisi di lokasi tersebut masih kesulitan sumber Air minum untuk ternak. Karena hanya mengandalkan air hujan. Kemudian terjadi kondisi pancaroba yang sebelumnya panas terik lalu beralih ke masuknya musim penghujan. Perubahan kondisi cuaca ekstrim ini membuat ternak kerbau mengalami sakit.
Awalnya ada 8 ekor ternak kerbau yg dilaporkan mati akibat meminum air kubangan yang sudah kotor karena tidak ada lagi sumber air. Ternak kerbau tersebut mati dengan kondisi Rumen mengalami distensi ( terjadinya Tympani Akut ). Berikutnya ada 7 ekor ternak kerbau menunjukkan gejala konjungtiva mata hiperemik ( kemerahan disertai dengam keluarnya ingus dari hidung yang berwarna kuning kehijauan ).
“Dari informasi ini bisa kami diagnosa ke 7 ternak kerbau tersebut menderita MCF. Penyakit Malignant Catarrhal Fever (MCF) di Indonesia disebut dengan penyakit ingusan yang merupakan penyakit imunolimfoproliferatif yang bersifat fatal,” kata dr. Rini menjelaskan.
“Utk 15 tetnak ini kondisi fisiknya sudah tidak bisa kami lihat. Karena memang sudah tersisa tulang belulang,” tambahnya mengutip laporan dari tim UPT yang sebelumnya turun ke lokasi.
Untuk Kematian Kerbau yang terbaru pada Maret ini di lokasi tersebut sebanyak 11 ekor. Rata-rata berumur kurang dari 1 tahun. Dari informasi pertenak di lokasi, rata-rata ternak tersebut menunjukkan gejala klinis seperti ngorok, bengkak bawah leher dan keluar ingus.
“Inipun kejadiannya sudah lebih dari satu minggu yang lalu. Sehingga kondisi bangkai ternak sudaj membengkak dan mulai membusuk,” katanya.
Sesuai informasi para peternak, pihak dinas peternakan menyimpulkan 11 ekor ternak kerbau tersebut terinfeksi Septicaemia Epizootica (SE) atau penyakit Ngorok. Diakui, dari 11 ekor ternak kerbau yang mati tersebut sebelumnya memang tidak bisa dibawa pulang saat jadwal registrasi. Sehingga petugas peternakan tidak bisa memberikan suntikan Vaksinasi SE.
“Kabupaten Sumbawa endemis SE. Kerbau lebih sensitif dibanding Sapi. Pagi tadi petugas UPT Prokeswan didampingi petugas kabupaten melakukan investigasi dan vaksinasi SE pada ternak sapi dan kerbau di Labu Terata,” kata Hj. Rini.
Ke depan dia berharap tidak ada peternak yang enggan melakukan registrasi sekaligus vaksinasi terhadap semua ternaknya. kepada semua pemilik ternak tetap melakukan registrasi sekaligus divaksin. Karena sangat disayangkan bila pemilik tidak memberikan perhatian kepada ternaknya untuk divaksin setiap tahun. (IM)


COMMENTS