SUMBAWA- Warga Desa Bajo, Kecamatan Labuhan Badas, Kabupaten Sumbawa, Nusa Tenggara Barat (NTB) mengalami krisis air bersih. Desa ini termasuk salah satu wilayah pulau terluar di NTB.
Kondisi ini sudah berlangsung selama puluhan tahun, mengingat air yang ada di sekitar mereka rasanya asin dan berkapur.
Kepala Desa Bajo, Jufrin mengakui kondisi warganya. Untuk memenuhi kebutuhan air minum sehari-hari warga membeli air dus kemasan Rp. 25 ribu yang habis selama 1-2 hari tergantung kebutuhan.
“Air dus itu di bawah gunakan perahu dari pusat kecamatan Labuhan Badas. Jarak dari daratan ke pulau ini 2-3 jam tergantung cuaca,” kata Jufrin saat ditemui Minggu (1/9/2024).
Berbagai upaya sudah dilakukan warga untuk mendekatkan air bersih dengan membuat sumur gali. Tetapi lokasi sumur tersebut tetap asin.
“Tingkat keasinan bervariasi. Ada yang asin banget dan tidak begitu asin,” ucapnya.
Akibat mengkonsumsi air sumur berkapur ini warga banyak terkena penyakit batu ginjal.
Ia juga sudah mencoba mengusulkan adanya sumur bor, atau proyek air bersih kepada pemerintah provinsi NTB. Namun beberapa kali usulan belum juga direalisasikan pemerintah.
“Jadi seperti inilah nasib kami sampai sekarang sudah puluhan tahun begini. Kondisi diperparah saat musim kemarau, karena debit air sumur berkurang.
Setiap hari kami beli air dus kemasan untuk kebutuhan minum. Sementara untuk masak dan cuci kakus kami gunakan air sumur,” cerita nya.
Warga juga membeli air golongan dengan harga Rp. 10- 15 ribu rupiah.
“ Setiap warga yang membeli air, bisa mengeluarkan uang 50 ribu sampai 100 ribu sekali membeli,” kisahnya.
Jufrin berharap pemerintah daerah melalui leading sektor terkait dapat memberikan perhatiannya dengan merealisasikan pengadaan sumur atau proyek air bersih.
Sehingga kesulitan warga untuk mendapatkan air selama ini, bisa teratasi. “Air bersih ini adalah kebutuhan dasar. Bagaimana kami mau sejahtera jika kebutuhan dasar saja tidak terpenuhi,” katanya.
Untuk diketahui, di Desa Bajo pulau Medang jumlah warga 1.525 jiwa terbagi 486 Kepala Keluarga yang tersebar di tiga Dusun.
“Kami juga kendala transportasi karena tidak tiap hari kami bisa sewa perahu untuk berbelanja kebutuhan pokok di pusat kecamatan,” pungkasnya.(IM)


COMMENTS