SUMBAWA BARAT,intanmedia.com -Bursa kandidat bakal calon bupati maupun calon wakil bupati Kabupaten Sumbawa Barat (KSB) selama empat kali Pilkada diisi laki-laki. Kini pada perhelatan Pilkada serentak yang digelar bulan November mendatang, dominasi itu bakal terpecahkan, seiring munculnya nama figur baru bakal calon wakil bupati Kabupaten Sumbawa Barat adalah istri Bupati Sumbawa Barat H.W Musyafirin yaitu, Hj. Hanifah Musyafirin.
Sosok Hj. Hanifah Musyafirin yang sudah dikenal luas melalui gerakan dan kegiatan sosial kemasyarakatan serta sejumlah prestasi, merupakan perempuan pertama di Kabupaten Sumbawa Barat yang berani maju di perhelatan Pilkada KSB November mendatang mendampingi H. Amar Nurmansyah, ST. Hj. Hanifah dianggap punya privilage tersendiri sehingga menjadi daya tarik masyarakat untuk memilihnya.
“Sebagai perempuan, Hj. Hanifah memiliki kekuatan yang cukup besar. Beliau representasi kaum perempuan sehingga sudah sepatutnya untuk didukung secara penuh,” ungkap Kordinator Jilbab Merah untuk Amar-Hanifah, Kelurahan Menala Taliwang, Hj. Mulyatini, kepada media ini.
Ia tidak memungkiri banyak prestasi prestesius yang diraih Hj Hanifah dalam kiprahnya sebagai seorang birokrasi di pemerintahan Sumbawa Barat.
Hj. Hanifah bahkan disebutkannya memiliki andil besar menginisiasi gerakan Tuntas Baca Al Quran (TBA) di kalangan perempuan dan kalangan bapak-bapak. Perannya juga sangat luar biasa dalam menumbuhkan kesetiakawanan sosial di Sumbawa Barat.
” Yang kami ketahui, gerakan TBA ini telah mengalami transformasi menjadi gerakan sosial berbasis masyarakat yang dikenal sebagai Wahana Kesejahteraan Sosial Berbasis Masyarakat (WKSBM),” terangnya seraya menambahkan, WKSBM terbentuk di setiap desa dan kelurahan di seluruh kabupaten Sumbawa Barat,
“Beberapa di antara WKSBM ini bahkan telah membentuk kelompok usaha bersama dan komunitas usaha kreatif, yang membantu meningkatkan pendapatan ekonomi keluarga,” imbuhnya.
Srikandi Jilbab Merah lanjut Hj. Mulya, tidak cukup melihat Hj. Hanifah dari sisi keberadaannya sebagai istri Bupati, tetapi kepemimpinan perempuan dalam politik merupakan hal yang wajar, karena hanya perempuan yang mampu dan mau memperjuangkan isu-isu penting terkait perempuan itu sendiri.
“Di era saat ini kesetaraan gender telah menjadi dorongan bagi kaum perempuan untuk bangkit. Hal ini juga sebagai peningkatan partisipasi perempuan dalam pengambilan keputusan politik yang lebih akomodatif dan substansial. Selain juga, menguatkan demokrasi yang senantiasa memberikan gagasan terkait perundang-undangan pro perempuan dan anak di ruang publik,” pungkas Hj. Mulyatini. (IM)


COMMENTS