OLEH : A.R Alamudy
Hari Kemerdekaan ibarat lahirnya “Sang Fajar” Ketika awan gelap membungkus negeri ini dengan pesimisme, bagaimanapun nikmat kemerdekaan membangkitkan Sang Fajar untuk berdiri dengan tegak, untuk terus pula melaju untuk Indonesia maju, menengadahkan wajah dan menghormat bendera merah putih yang lusuh akibat terjangan badai konflik kepentingan dan intrik politik.
Disaat bersamaan negeri ini dihadapkan pada kenyataan bahwa generasi penerus Bangs aini dicemaskan oleh identitas yang makin tidak jelas, sebuah budaya luar dan gaya hidup yang semakin hedonis, bahkan kasar. Telah menjadi pekerjaan rumah tersendiri untuk segera diperhatikan oleh elit negeri ini dan kita semua, Salah satu caranya adalah menyemai Kembali karakter bangsa yang berkebudayaan berdasarkan pada Pendidikan.
Pendidikan menurut Ki Hajar Dewantara sebagai proses pembudayaan haruslah mampu mengembangkan “Trisakti”insani dengan memberdayakan segala potensi inderawi, melalui pembelajaran olah piker, olah rasa, dan olah raga, Pendidikan sepanjang hayat dalam kerangka memanusiakan manusia dalam proses belajar menjadi manusia sebagai mahluk berkebudayaan yang senantiasa didasarkan pada keimanan dan ketaqwaan kepada Tuhan yang Maha kuasa.
Setiap individu memiliki tiga potensi besar sebagai kreator kebudayaan yang disebutnya sebagai trisakti insani, Cipta (pikiran) yang membuahkan pengetahuan, Pendidikan dan filsafat, rasa yang membuahkan keindahan, keluhuran bathin, seni, adat istiadat, penyesuaian sosial, nasionalisme, keadilan dan keagamaan, serta karsa (kemauan) yang menimbulkan perbuatan dan buatan manusia seperti industri, pertanian, dan bangunan (arsitektur).
Selain mengembangkan potensi pribadi sebagai perwujudan khusus dari alam, proses Pendidikan harus mampu menghubungkan kapasitas individual ke dalam kehidupan kolektif sebagai warga komunitas Bangsa dan Dunia, oleh karena itu Pendidikan harus terkait dengan Visi Transformasi Bangsa dan bukan memaksakan konsep kurikulum tanpa memperhatiakn visi besar bangsa ini.
Sudah 78 tahun negeri ini merdeka, namun fitra kemerdekaan masih belum bisa dirasakan secara menyeluruh, bahkan konflik politik dan perebutan kekuasaan semakin barbar dan cenderung menghalalkan segala cara, maka tidak heran hasil pemilu kemarin masih menyisahkan serpihan-serpihan noda yang masih membekas serta menimbulkan kecemasan. Untuk mengubah kecemasan menjadi harapan dan optimesme, pemimpin terpilih harus sungguh-sungguh menjamin dengan merealisasikan negara kekeluargaan yang dapat melindungi segenap Bangsa dan seluruh tumpah darah. Pemimpin terpilih juga halus sungguh-sungguh berusaha menciutkan kesenjangan sosial dan mengembangkan keadilan sosial dengan merealisasikan Negara Kesejahteraan.
Dalam mengarungi jalan terjal politik harapan itu, sikap optimis harus terus dipelihara, orang boleh kecewa terhadap pelaksanaan demokrasi tetapi meski bersabar untuk mempertahankan rezim demokrasi. Berbeda dengan ledakan harapan, pemerintahan demokrasi baru, sering dihadapkan dengan aneka masalah dan kekecewaan, oleh karena itu betapapun legitimasi kinerja memainkan peranan penting bagi kelangsungan pemerintahan demokrasi. Yang lebih menentukan bukanlah kesanggupan mereka dalam memutuskan masalah-masalah itu, melainkan cara pemimpin politik itu menanggapi ketidakmampuannya suatu pemerintahan demokrasi bisa bertahan jika mampu menggalang Kerjasama lintas batas, bukan menyulut pertikaian, sambil mengupayakan secara bersama cara mengatasi permasalahan secara institusional.
Para pemimpin harus menyadari pentingnya merawat harapan dan optimisme dengan cara memahami kesaling tergantungan realitas serta kesediaan menerobos batas-batas politik lama.
Kekuaasaan digunakan untuk memotivasi dan memberi inspirasi yang dapat mendorong partisipasi dan tanggungjawab warga untuk bergotong-royong merealisasikan kebajikan bersama dalam menguatkan gotong-royong ini. Pluraritas harus dikembangkan secara jujur, tidak dipolitisasi sebagai siasat demi menguntungkan golongan sendiri, Sang fajar harus tetap menyinsing memberi harapan dan optimisme serta angin segar agar bendera merah putih selalu berkibar diharinya yang ke-78. Semoga Allah Rabbul Izzati senantiasa meridhoi perjuangan Bangsa Indonesia serta tumpah darahnya…AAmiiiin yaa rabbalaalaamiiin….


COMMENTS