HomeKSB

PT AMNT Reklamasi Ratusan Hektare Bekas Tambang

PT AMNT Reklamasi Ratusan Hektare Bekas Tambang

Sekolah di Talonang Baru Butuh Sumur Bor dan Jaringan Internet
Rekrutmen Naker Smelter, Sumbawa Protes dan Minta Perusahaan Transparan
PTAMNT Berkomitmen Bangun Pabrik Smelter Sesuai Rencana

SUMBAWA BARAT – Operasinal tambang batu hijau saat ini telah memasuki fase terakhir atau fase delapan. Penambangan diperkirakan berakhir 10 tahun ke depan. Yakni hingga tahun 2032 mendatang. Sebelum berakhir fase delapan hingga pasca operasional, PT Amman Mineral Nusa Tenggara (PTAMNT) operator tambang Batu Hijau Benete, Kecamatan Maluk, Kabupaten Sumbawa Barat (KSB), berkomitmen mengembalikan kondisi lahan bekas Tambang dengan melakukan reklamasi secara paralel dengan operasional tambang yang mencapai ratusan Hektare (Ha).
Kepala Teknik Tambang PTAMNT Wudi Raharjo didampingi Manager Head Of Corporate Communication Kartika Octaviana dan Manager Eksternal Komunikasi AMNT Ananta Wisesa kepada wartawan peserta ekspedisi talonang di site tambang batu hijau menjelaskan, sesuai dengan visi dalam menjalankan usaha, perusahaan tidak pernah mengabaikan aspek lingkungan. Yaitu dengan melakukan reklamasi sesegera mungkin. Reklamasi sendiri dilakukan secara paralel di lahan bekas galian tambang yang dilakukan hingga pasca tambang mengunakan
batuan hasil galian tambang yang secara ekonomis dianggap tidak bernilai.
Dilakukan Reklamasi sesegera mungkin pada lahan yang telah selesai ditambang, guna mencegah terjadinya erosi.
Selain itu, untuk mempertahankan kestabilan struktur lereng, membentuk kembali struktur dan keanekaragaman vegetasi seperti sebelum penambangan.
Saat ini katanya, kegiatan reklamasi bekas galian tambang mencapai sekitar 786,31 Hektare (Ha) dari total luas areal bukaan tambang 3185,81 Ha. Reklmasi yang dilakukan, tidak merubah jenis pohon yang ada sebelum penambangan. Jenis pohan yang ditanam adalah pohon asli. ”Sesuai hasil pendataan dan pemetaan terdapat sekitar 90 jenis pohon kayu diwilayah konsesi lahan tambang batu hijau. Terdiri dari spesies untuk produksi dan bernilai ekonomis maupun spesies pohon yang bernilai secara ekologisi,” katanya.
Kegiatannya sendiri dilakukan secara paralel dengan operasi penambangan perusahaan dimana dilakukan sesegera mungkin pada lahan-lahan yang telah selesai digunakan untuk mencegah erosi dan mempertahankan kestabilan struktur lereng, serta membentuk kembali struktur dan keanekaragaman vegetasi yang sama seperti sebelum penambangan sesuai dengan peruntukan.
Pemantauan ekologi, sambung dia, juga dilakukan secara intensif untuk memastikan keefektifan kegiatan reklamasi yang telah dilakukan agar sesuai dengan tujuan yang hendak dicapai.
Wudi menambahkan, perusahaan tidak hanya melakukan reklamasi. Namun yang tidak kalah pentingnya, dilakukan pemantuan. Hasilnya, adanya pemulihan kualitas lingkungan yang diperkuat peningkatan kesuburan tanah, perbaikan iklim setempat, keragaman spesies pohon yang ditanam, dan ditempatinya daerah reklamasi sebagai habitat satwa liar asli Batu Hijau, seperti rusa, ayam hutan, musang, kelelawar, elang, dan satwa liar lainnya,.
Intinya, areal reklamasi tambang Batu Hijau yang berumur lima tahun, memenuhi kriteria keberhasilan yang ditetapkan pemerintah sebagaimana diatur Keputusan Menteri (Kepmen) ESDM Nomor: 1827/2018 tentang Pedoman Pelaksanaan Kaidah Teknik Pertambangan yang Baik terpenuhi. (IM)

Spread the love

COMMENTS

WORDPRESS: 0
DISQUS: