HomePemerintahan

Jangan Salah Kaprah Soal Program Jagung

Jangan Salah Kaprah Soal Program Jagung

Penerima BSPS Mulai Tandatangan Buku Rekening
Puluhan Desa akan Gelar Seleksi Tambahan
Rencana Shalat Ied Dibahas

SUMBAWA- Meluasnya kerusakan hutan di Sumbawa akibat alih fungsi atau perambahan untuk tanaman semusim seperti jagung kerap kali dikaitkan dengan program Pemeritahan Husni-Mo 1 juta ton jagung. Program ini disebut mendorong deforestasi hutan di Sumbawa akhir-akhir ini.
Aktivis Lingkungan Hidup yang juga Ketua Lembaga Olah Hidup (LOH) Kabupaten Sumbawa Yani Sagaroa, menyebutkan, akhir-akhir ini kerusakan hutan meningkat luar biasa. Hal ini, dipicu illegal logging, usaha penanaman jagung yang cukup massif.
“Target jagung pada Tahun 2016, 2017 sekitar 1 juta ton per hektare. Maka kebutuhan lahannya di atas 100 ribu hektare,” ungkapnya beberapa waktu lalu. Namun menurut Wakil Bupati Sumbawa H.Mahmud Abdullah, masyarakat salah kaprah terkait program tersebut.
“Jadi memang, ini kita salah kaprah. Dulu kita minta mereka (masyarakat-red) tanam jagung. Tapi lokasinya yang salah, mereka memilih sembarang lokasi. Yang kita minta dulu masyarakat memanfaatkan lahan-lahan yang tidak terpakai dengan kemiringan tertentu. Ini sudah terlalu salah kaprah, semua lahan, hutan dibabat untuk menanam jagung,” jelas Wabup.

Baca: Terus Dorong Industrialisasi Pangan Lokal

Kata Wabup, Pemkab selain melakukan upaya koordinasi dengan sejumlah pihak termasuk Kodim, kepolisian untuk menghimbau agar masyarakat tidak lagi merambah hutan. Pada saat yang sama juga terus berupaya untuk mengembalikan fungsi hutan. Memang hasilnya tidak serta merta dapat dilihat, karena memang membutuhkan waktu.
“Barangkali ke depan kita akan ada program-program lain untuk mengembalikan fungsi hutan kita. Barangkali nanti ada tanaman keras di situ, tapi mereka masih bisa mengusahakan hutan itu. Seperti penanaman pohon sengon, termasuk kelor seperti yang dilakukan Pak camat Lunyuk. Ini kan langkah-langkah kita. Cuma ini belum kelihatan sekarang, karena ini butuh waktu,” terangnya.
Masyarakat kerap kali berdalih bahwa pembukaan lahan karena kebutuhan perut. Karenanya, mereka menuntut solusi dari pemerintah.
“Itulah yang saya katakan kita coba dengan penanaman seperti yang saya coba terapkan sekarang dengan menaman sengon dengan porang. Ini salah satu solusi supaya ada peinngkatan pendapatan masyarakat. Porang ini juga menjanjikan,” pungkasnya. (im01)

COMMENTS

WORDPRESS: 0
DISQUS: